Niti-Sastra ungkapan dari Canakya dan Hitopadesa Satsvarupa dasa Goswami dikutip oleh Srila Prabhupada
Kata Pengantar
Canakya Pandita hidup kira-kira tiga ribu tahun yang lampau. Beliau adalah seorang brahmana penasehat dan perdana menteri Candragupta, raja Hindu yang terakhir. Walaupun beliau adalah perdana menteri, Canakya tetap menjaga status kebrahmanaannya dengan tinggal di sebuah pondok kecil di luar tembok istana dan tidak mau menerima gaji. Dengan cara ini, beliau tetap bebas dari tekanan atau pengendalian siapapun. Suatu waktu, maharaja menyuruh Canakya menjelaskan sesuatu yang telah dilakukannya. Canakya menjawab, “Apabila hamba harus menjelaskan segala tindakan hamba kepada anda, hamba mengundurkan diri".
Etika, moral, serta ajaran-ajaran politik Canakya masih berharga. Srila Prabhupada mengatakan bahwa beliau mempelajari sloka Canakya pada masa kecilnya. "Politiknya dipelajari bahkan sekarang di klas-klas M.A. Dan karena beliau adalah seorang politikus dan diplomat yang besar, lingkungan di New Delhi dimana semua kedutaan besar asing ditempatkan disebut Chanakyapuri” (Ceramah, Los Angeles, 22 Juni 1972).
Prabhupada sering mengutip sloka-sloka Canakya dalam ceramah-eramah serta pembicaraan beliau, murid-murid Prabhupada menjadi cukup bersemangat untuk bertanya lebih jauh tentang Canakya :
Yamuni dasi: Beliau adalah seorang penyembah mulia!
Prabhupada : Tidak.
Yamuna : Jadi beliau bukan autoritas.
Prabhupada : Tidak, tidak, beliau bukan autoritas dalam pengertian rohani. Beliau adalah seorang poltikus, orang yang bermoral Politikus. Itu saja. Orang duniawi.!
Dalam kesempatan lain, murid Prabhupada, Siddha-svarups dasa, bertanya, "Apakah Chanakya Pandita bisa dikenal secara luas di India?”
Prabhupada menjawab, "Itu bukanlah sesuatu yang sangat penting. Tidak ada yang dilakukannya berkenaan dengan hal kerohanian..... kecuali ajaran-ajaran moral”.?
Apabila Canakya bukan autoritas rohani, mengapa Prabhupada, begitu sering mengutipnya! Seseorang mungkin menyatakan ajaran. ajaran moral Canakya, diperoleh dari kebijaksanaan umum dan kitab suci, juga terlihat dalam Panca-tantra dan Hitopadesa. Kesadaran Krsna adalah rohani melampaui filsafat moral, sekalipun demikian moral dan etika yang disampaikan oleh Canakya merupakan dasar tingkah laku yang baik. Karena itu, ajaran-ajarannya diminati oleh rohaniwan maupun para penyembah yang hidup mempraktekkan bhakti di dunia ini. Pelajaran moral Chanakya adalah relevan dan dapat kita terapkan. Bagaimana menjadi sopan, bagaimana menjadi bermoral, merupakan tema yang kuat yang menggerakkan seluruh sloka Canakya. Canakya juga menunjukkan bahwa dengan bermoral kita akan berbahagia dalam perjalanan hidup. Kehidupan yang tidak beradab -suatu kehidupan yang dipersembahkan hanya untuk kepuasan indria - hanya menimbulkan kesedihan, bukan saja pada diri kita sendiri, tetapi juga pada seluruh masyarakat. Apa Gunanya orang jahat?
Saya teringat pada suatu pagi Srila Prabhupada mengutip Canakya untuk murid-muridnya. Ketika seseorang meninggalkan perkumpulan ini, seorang penyembah menulis kepada Prabhupada menanyakannya bagaimana hal ini dapat terjadi. Prabhupada membalasnya dan mengatakan, "Saya tidak keberatan seorang penyembah telah pergi. Kami tidak menginginkan begitu banyak bintang, kami hanya menginginkan sebuah bulan. Tetapi saya memiliki lebih dari sebuah bulan”. Kemudian beliau menyebutkan nama-nama kami - Mukunda, Satsvarupa, Brahmananda.?
Pada waktu itu, kami tidak mempunyai pikiran bahwa ini adalah sloka Canakya. Srila Prabhupada tidak selalu memberitahukan kami darimana asal beraneka ragam pernyataan yang beliau gunakan. Kemudian kami menyadari bahwa Canakya yang termasyur di India sama termasyurnya dengan Shakespeare di Barat.
Prabhupada mengatakan Canakya adalah seorang penguasa. Pernah seorang penyembah bertanya kepada Prabhupada tentang kritikannya terhadap kebijaksanaan pemerintah. Penyembah ini berpikir kritikan-kritikan ini mungkin menyebabkan kesulitan. ”Dalam satu penjelasan, anda terang-terangan mengkritik bagaimana malangnya penduduk karena mereka mempunyai perdana menteri wanita, dan dalam penjelasan yang lain anda terang-terangan mengatakan bahwa penduduk hendaknya menyimpan beberapa harta benda mereka secara rahasia, yang bertentangan dengan prinsip , pajak penghasilan”. Prabhupada menjawab, "Ya, demikianlah Canakya adalah autoritas. Saya mengutip Canakya. Apa salah saya? Chanakya adalah penguasa. Kalau tidak, mengapa anda menamakan 'Canakyapuri? Beliau sebaik Gandhi dan orang-orang besar lainnya. Saya tidak bersalah. Saya mengutip penguasa”.
Srila Prabhupada menginginkan kita mempelajari moralitas, tetapi beliau juga menghendaki kita untuk menjadi bijak dalam keduniawian sehingga kita tidak akan ditipu. Hal itu sudah pernah terjadi di Second Avenue 26, pada waktu kita ditipu oleh seorang pengusaha real estate, Tuan Payne. Tuan Payne adalah contoh klasik seekor ular yang berhiaskan permata. Kita terbuai dalam rasa kepalsuan atas jaminan permata itu dan kemudian kita digigit oleh taring-taring ular yang berbisa. Ada kata bijak lain dimana Canakya mengatakan bahwa jika kita berurusan dengan seorang penipu, kita juga hendaknya lihai. Ayat tersebut nyata sekali telah relevan bagi murid-murid Prabhupada baik di India maupun di Barat.
Pada tahun 1977, murid-murid Prabhupada di Amerika sedang memerangi gerakan anti pemujaan. Kita akan mencetak daftar nama para profesor yang bersimpati sebagai bagian kampanye pertahanan kita. Ramesvara menjadi cemas jangan-jangan para anti pemujaan itu menggunakan daftar tersebut untuk menghubungi para profesor itu dan mempengaruhi pendiriannya untuk menentang kita. Lagi, Prabhupada mengutip Cinakya : "Jangan tunjukkan rencana-rencanamu, agar tidak menjadi rusak”.
Saya teringat tatkala saya sedang riset untuk buku saya, bacaan-bacaan dalam Literatur Veda. Saya membaca sesuatu tentang Canakya yang ditulis oleh seorang sarjana. Sarjana ini membandingkan Canakya dengan Machiavelli, seorang manipulator dan negarawan yang lihai yang akan melakukan dosa apapun untuk tujuan politiknya. Mendudukan Candragupta serta mempertahankannya disana. Sarjana ini mengatakan bahwa Canakya menulis sebuah buku dengan ”politik kotor” bagi orang-orang di masa datang dengan demikian sesungguhnya dia tidak bermoral. Interpretasi orang ini begitu berbeda dengan interpretasi Prabhupada, kemudian saya tidak menyelesaikan membaca buku sarjana itu karena pendapatnya begitu berbeda dengan pendapat Prabhupada.
Dengan mengabaikan kenyataan bahwa Canakya bukanlah seorang Vaisnava, Srila Prabhupada memilih ungkapan-ungkapan Cinakya yang dapat kita pakai dalam pelayanan kepada Krsna. Prabhupada tidak pernah mengungkapkan Canakya kepada kita kecuali sebagai orang duniawi. Saya juga bertanya kepada Prabhupada tentang Canakya pada waktu jalan pagi di Hyderabad : "Apakah Canakya seorang Vaisnava?” Prabhupada menjawab, "Tidak, Mayavadi”. Saya dapat mengerti bahwa beliau menggunakannya dalam pelayanan kepada Krsna.
Canakya sendiri mengatakan bahwa kita bisa mengambil emas dari tempat kotor. Kebijaksanaan moralnya tidak berdiri sepenuhnya pada kepercayaannya sendiri. Canakya mendapatkan kebijaksanaannya dari niti-sastra, kebijaksanaan umum ditulis dalam buku seperti Hitopadesa dan Panca-tantra. Ungkapan-ungkapan ini mengalir dalam darah kebudayaan dan kesadaran India. Kita punya pepatah seperti "Pencegahan lebih baik daripada pengobatan”, tetapi orang-orang India memiliki permata-permata ajaran ini. Karena itu, Srila Prabhupada juga menggunakan ungkapan-ungkapan ini pada ceramah-ceramahnya dan dalam kesadaran Krsna.
Sebagai contoh, Canakya mengatakan bahwa karena hidup itu singkat, kita hendaknya melakukan sesuatu yang dapat menjadikan kita abadi. Srila Prabhupada menjelaskan, walaupun Canakya mungkin telah mengartikan bahwa kita hendaknya melakukan sesuatu agar kita dikenang dalam jangka waktu yang lama setelah meninggal, ini adalah pertimbangan secara duniawi. Prabhupada mengatakan bahwa satu-satunya yang berharga dilakukan guna menjadi abadi adalah menyembah Krsna dan kembali kepada Tuhan. Beliau melampaui tujuan duniawi Canakya dan menggunakan ungkapan-ungkapannya untuk selalu menarik bahkan lucu. Kemudian dari sloka Canakya, beliau akan menggiring menuju tujuan kesadaran Krsna yang sesungguhnya.
Dengan menggabungkan beberapa ungkapan-ungkapan Canakya serta Hitopadesa yang Prabhupada gunakan dalam buku-buku, ceramah-ceramah, dan percakapan-percakapannya, kita berharap dapat memberikan pembaca akal pikiran yang berguna. Mereka yang mempelajari ajaran-ajaran Srila Prabhupada akan sudah mengenal Canakya, tetapi kami berharap buku ini akan membantu mereka dalam pelajarannya. Buku ini akan memberikan kita wawasan yang lebih luas tentang daftar ajaran Prabhupada yang sangat menarik, dan akan membantu kita belajar menggunakan sloka-sloka ini dalam kehidupan dan pengajaran kita sendiri.
Srila Prabhupada pernah ditanyai oleh seorang kepala guru-kula apakah penyembah-penyembah bisa menterjemahkan sloka-sloka Canakya dan mengajarkannya kepada anak-anak. Prabhupada menjawab, "Mengenai sloka Canakya, saya kira yang paling baik adalah jika saya sendiri yang menterjemahkannya dan mengirim terjemahan itu kepadamu untuk dicetak, daripada menunggu Pradyumna”. Ini menyatakan bahwa Srila Prabhupada akan puas melihat terlaksananya terjemahan ini, khususnya bagi para pengikutnya.
Saya berterima kasih kepada Agrahya Prabhu atas karya terjemahannya. Ini merupakan kerjasama yang menggembirakan dan saya berharap kita dapat meningkatkan kerjasama yang lebih banyak di masa yang akan datang.
— Satsvarupa dasa Goswami
Sloka Tujuh
kim taya kriyate dhenva
ya na dogdhri na garbhini
ko 'rthah putrena jatena
yo na vidvin na bhaktiman
kim - apa: taya - dengannya (perempuan): kriyate - untuk dilakukan, dhenva - dengan sapi, ya : yang: na - tidak: dogdhri - memberikan susu, na - tidak, garbhini : bisa hamil, kah : apa, arthah : nilai: putrena: oleh putera: jatena: dengan kelahiran, yah - yang, na - tidak, vidvin - sarjana, na: tidak: bhaktiman: penyembah.
ARTI
Apa gunanya sapi yang tidak bisa hamil dan tidak dapat memberikan susu? Apa gunanya anak yang tidak berpendidikan atau bukan penyembah Tuhan?
ULASAN
Kadang-kadang penyembah menanyakan mengapa Canakya Pandita memberikan bobot yang sama pada anak yang menjadi Penyembah (bhaktimin) dengan anak yang berpendidikan (viduan).
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menganalisa siapa sebenarnya Chanakya Pandita. Beliau bukan Vaisnava. Sloka-sloka tersebut hanya menjadi bernilai yang lebih tinggi dalam paham Vaisnava yang murni bila sloka-sloka itu dikutip oleh Srila Prabhupada. Bagi prabhupada, seorang sarjana bijak adalah penyembah. Prabhupada sering mengatakan bahwa orang yang sudah sarjana tetapi tidak penyembah adalah sia-sia.
Di dunia material, para orang tua sering sangat berkeinginan untuk melahirkan anak-anak, tetapi mereka tidak memikirkan bagaimana sakitnya nanti kalau anak-anaknya besar tidak berguna. Pada waktu Raja Citraketu dan permaisurinya tidak bisa menurunkan putera, mereka memohon kepada Angira Muni untuk memberkahi mereka melahirkan seorang putra. Angira Muni mengerti bahwa sesuai dengan karyanya, Citraketu tidak ditakdirkan untuk mendapatkan putera, tetapi oleh karena beliau mendesak, Angira Muni memberkahi istrinya agar dia bisa melahirkan. Angira Muni juga mengingatkan bahwa puteranya akan menimhulkan kegembiraan dan kesedihan yang luar biasa. Citraketu mendengarkan kata-kata rsi itu dan kemudian memberikan tanggapan bahwa itu tidak menjadi masalah apakah puteranya tidak patuh atau barangkali cacat. Beliau memberikan alasan bahwa paman yang buta lebih baik daripada tidak mempunyai paman. Prabhupada menulis, "Dunia material begitu tercemar sehingga orang ingin mendapatkan anak walaupun anak itu tidak berguna”.! Kalau keturunan menjadi sumber yang menyakitkan dan memerosotkan keluarga, orang tua akan memaki nasibnya karena memiliki anak seperti itu. Seandainya mereka sudah memikirkan lebih mendalam, dan mengerti kebijaksanaan sloka Canakya ini, barangkali mereka sudah menghindari kebangkitan seperti itu dalam kehidupan keluarga.
Vrtrasura, yang sedang berperang di pihak para raksasa, memarahi bala tentaranya sendiri ketika melihat mereka lari dari peperangan seperti pengecut. "O para dewa”, Vrtrasura herkata, "bala tentara raksasa ini telah dilahirkan tidak berguna, mereka sesungguhnya telah lahir dari badan ibunya persis seperti kotoran”.? Di sini lagi, anak yang jelek dikutuk. Dalam versi sloka Canakya yang serupa, Hitopadesa menyatakan, "Apa gunanya anak yang tidak mulia atau tidak berbhakti kepada Tuhan? Anak seperti itu bagaikan mata bura, yang hanya memberikan rasa sakit, namun tidak bisa membantu melihat”.
Dari Mahabharata kita belajar bagaimana anak yang iri hati, bukan penyembah, Duryodhana, menyebabkan seluruh keluarganya hancur. Duryodhana beserta saudara-saudara dan orang tuanya, Dhrtarastra, bersekongkol melawan para Pandava, yang merupakan penyembah Krsna. Hal inilah yang menyebabkan kehancuran mereka.
Setelah melihat kejahatan yang akan muncul dari sifat iri hati itu, Vidura menasehati Dhrtarastra untuk menolak Duryodhana, dan mengemukakan sebuah ayat yang serupa dengan sloka ini : "Anda sedang memelihara kepribadian kejahatan, Duryodhana, sebagai anakmu yang sempurna, tetapi dia iri kepada Tuhan Krsna. Dan dengan demikian, oleh karena anda memelihara bukan penyembah Krsna, anda tidak memiliki semua sifat saleh. Bebaskanlah dirimu dari nasib buruk ini secepatnya dan lakukan kebaikan untuk semua keluarga!”
Menurut kebudayaan Veda, seorang anak yang baik dapat mempersembahkan pinda kepada para leluhur dan melakukan korban suci kepada Visnu untuk menyelematkan roh ayahnya, bahkan walaupun ayahnya jatuh. Prabhupada menulis, "Tetapi seandianya sang anak sudah menjadi musuh Visnu, dengan hati bermusuhan seperti itu, bagaimana dia bisa mempersembahkan korban suci kepada kaki padma Tuhan Vishnu”. Sri Krsna adalah langsung Kepribadian Tuhan Visnu, dan Duryodhana bermusuhan denganNya. Karena itu, dia tis, dak mampu melindungi ayahnya, Dhrtarastra, setelah kematiannya. Dia sendiri sudah jatuh, karena tidak yakin kepada Visnu. Maka, bagaimana dia sanggup melindungi ayahnya? Vidura menasehati Dhrtarastra untuk membuang anak yang tidak berguna seperti Duryodhana secepat mungkin kalau dia benar-benar ingin melihat keluarganya baik".
Ayat ini kelihatannya keras. Ayat ini menasehati orang tua untuk tidak mengakui anak cucu yang tidak berguna. Bagaimanapun Canakya tidak memperbincangkan masalah benar-salah dalam standar tinggi yang tidak mungkin dilakukan. Tetapi beliau menunjukkan apa yang sesungguhnya terjadi di dunia ini. Anak yang sudah besar mungkin benar-benar mengganggu bhajana orang tuanya. Orang tua mengingatkannya, dan pada akhirnya, kalau dia sudah cukup tua, membiarkan dia meninggalkan rumahnya dan mencari cara hidup sendiri. Ini sesungguhnya beban yang terjadi di banyak keluarga. Walaupun merupakan tugas orang tua untuk memelihara dan mengajarkan kesadaran Tuhan padanya, anak-anak bebas memilih untuk tidak menerima kehidupan pengabdian suci. Orang tua tidak semestinya memelihara anak-anak itu selamanya.
Srila Prabhupada memelihara anak-anaknya yang bukan penyembah sampai beliau berumur lima puluh tahun. Kemudian beliau menerima sannyasa. Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang tua hendaknya membuang anak-anaknya ke luar rumah atau membunuh mereka kalau tidak menjadi penyembah.
Ketika Prabhupada membicarakan hal ini, beliau membuat perbedaan antara anak yang tidak berguna dengan anak yang berwatak jahat. Itu tidak berarti bahwa orang tua sepenuhnya berhati keras. Prabhupada sering membandingkan anak-anak dengan binatang. Beliau mengatakan bahwa binatang kurang cerdas dan karena itu mesti dilindungi, tidak dikeluarkan atau dibunuh untuk memuaskan indria kita. Begitu pula, seorang ayah tidak akan membandingkan yang berhasil dengan anaknya yang bodoh dan membunuh anaknya yang bodoh.
Akan tetapi, kalau si anak mempunyai sifat jahat, orang tua semestinya menolak anak itu. Sebagai contoh, Raja Anga menjadi ayah Vena, yang kejam dan jahat. Maharaja Anga meninggalkan kehidupan istananya dan pergi ke hutan karena mengalami kesulitan dari puteranya yang jahat.
Pada waktu Prabhupada datang ke Amerika, beliau menerima begitu banyak putera dan puteri yang tidak berguna. Beliau tidak menolak kita, tetapi beliau mendidik kita untuk menjadi penyembah. Beliau mengakui bahwa kita yang tidak bernilai ini merupakan hasil karma, dan bisa diubah. Bagaimanapun juga, kita adalah roh yang mumi. Prabhupada membuat hubungan baru dengan kitahubungan ayah dengan anakanak rohani. Beliau memberikan kelahiran baru dan kesempatan baru untuk menjadi berguna. Ini merupakan contoh bagaimana anak-anak yang tidak berguna tidak perlu dibunuh, tetapi dapat diubah menajdi kembang-kembang pada generasi mereka.
Pada waktu Srila Prabhupada melatih murid-muridnya yang berencana mengunjungi Perdana Menteri India, beliau berkata, "Dekati mereka dan memohon dengan sangat dari keluargamu agar diharapkan menjadi pemuda-pemuda terhormat yang bersifat baik, penyembah dan berpendidikan..... Apa gunanya melahirkan kucing dan anjing. Dia semestinya menjadi bhaktimin atau vidvan. Jadi kami akan mendidik puteramu untuk menjadi vidvuan atau bhaktiman, Tidakkah anda suka pada putera anda dididik dengan cara itu? "Kamu harus memberitahukan mereka seperti itu. Dan berikan dengan benar”.” Hal ini menyatakan secara tidak langsung bahwa kalau orang tua dan anak-anak mereka bermoral bejat, walaupun ber. kedudukan tinggi di masyarakat, sesungguhnya mereka menyebab. kan susah pada keluarga dan bangsa mereka.
Srila Prabhupaida memberikan saran yang serupa kepada orang terhormat yang mengunjungi Vrndavan. Srila Prabhupada berkata, "Seandainya keluarga bangsawan tidak memberikan pendidikan dalam garis kerohanian, mereka semua menjadi hippies, orang yang bermalas-malasan, peminum dan menghambur-hamburkan uang ayahnya. Mereka mesti diberitahukan”.Para sadhu dan penyembah juga mempunyai tanggung jawab untuk memberikan saran ini kepada para orang tjia, bahkan walaupun saran itu ditolak. Zaman sekarang, para orang tua kelihatannya lebih menyesali atau tidak mengakui anak-anak mereka seandainya anak-anaknya menjadi penyembah Tuhan yang bijak. Para orang tua yang bersifat materialis menyesal melihat bahwa semua pendidikan material mereka telah gagal, dan karena pengaruh gerakan kesadaran Krsna, menginginkan cinta kasih Tuhan yang murni. Dalam keadaan itu, kebijaksanaan sloka ini diputar balik. Para orang tua menganggap penyembah yang tidak berguna, dan lebih senang melihat anak yang tidak berpendidikan atau tidak cendrung dalam kehidupan rohani. Anak-anak seperti itu akan menjadi sumber kesedihan orang tua mereka, apakah dengan berkelahi, proses perkara, ataupun kesedihan karena perpisahan pada saat kematian.
Seandainya ini benar, mengapa Canakya juga mengomentari nilai anak yang baik” Bukankah itu semua merupakan ikatan keluarga! Kita dapat mengukur keterikatan dalam tingkatan-tingkatan. Ada keterikatan pada keluarga, ada keridakterikaran, dan ada ikatan yang lebih tinggi dalam lingkungan keluarga, ikatan kepada Krsna.
Di Barat, para orang tua tidak menilai anak yang berpendidikan atau bhakta, mereka menilai anak yang mampu mewujudkan nilai mereka sendiri. Begitu juga, ada keluarga yang menilai anak yang saleh. Dalam hal manapun, keseimbangan kesatuan keluarga merupakan suatu hayalan. Sloka-sloka ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa ada prinsip-prinsip yang lebih tinggi dari stabilitas keluarga. Dan pada tangan-tangan Prabhupada prinsip-prinsip ini menjadi sarana untuk mengambil kita melewati kesalehan duniawi.
Apakah Srila Prabhupada pernah menolak murid-murid yang tidak berguna? Saya tidak pernah melihat beliau melakukan hal itu, walaupun saya melihat banyak murid menolak beliau. Srila Prabhupada memberikan kelonggaran. Beliau melakukan apa yang beliau dapat lakukan untuk memulai gerakan kesadaran Krsna dengan memberikan setiap orang kesempatan untuk bebas menekuni pelayanan kepada Krsna. Beliau menerima ketulusan mereka, bahkan walaupun latihan-latihan mereka tidak sesuai dengan standar. Seperti ayah dari seorang anak yang boros, ayah itu selalu siap menerima anak-anaknya kembali, bahkan walaupun mereka telah terjerat oleh sifat-sifat alam atau telah menyalahgunakan keinginan bebas mereka. Prabhupada menyadari bahwa anak yang jelek bisa menjadi baik lagi dan karena itu beliau tidak akan menolaknya.
1 Bhag. 6.14. 29
2 Bhag 6. 11. 4.
3 Bhas 3.113.
4 Bhag. 3. 1.13.
3 Perbincanyan di kamar, Vrndava, 24 Juni 1977.
6 Perbincangan di kamar, Vrndava, 5 Nopember 1976.
CATATAN DARI PENERJEMAH
Chanakya Pandita, juga dikenal sebagai Kautilya, tokoh terkemuka di dalam sejarah besar India. Sebagai kepala penasehat Maharaja Candragupta dari Dinasti Maurya, beliau dipercayakan untuk mengupayakan penggulingan raja-raja Nanda yang jahat. Keahliannya dalam berdiplomasi dijelaskan bahkan dalam Skanda Dua-belas Srimad-Bhagavatam, dimana dinyatakan bahwa "seorang brahmana tertentu akan mengupayakan runtuhnya dinasti Nanda. Beliau akan mentahtakan Candragupta di singgasana”.! Karena beliau, urusan diplomatik New Delhi dinamakan "Chanakyapuri”.
Ada berbeda catatan yang menyatakan kehidupan Canakya. Ada yang mengatakan bahwa beliau diundang ke istana oleh Candragupta (yang kemudian tidak berdaya di istana Nanda). Canakya disakiti hatinya oleh keluarga Nanda, dan beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan mengikatkan sikha-nya sebelum menggulingkan mereka. Apapun motivasinya, sejarah menjadi saksi atas keberhasilannya. Maharaja Candragupta dikenal sebagai raja besar Hindu yang terakhir, dengan wilayah kekuasaan sampai di seberang yang sekarang disebut Cambodia (Kambhoja), Thailand, Indochina, dan bahkan sampai Indonesia. Karena itu kerajaannya menjadi sangat kuat dimana pendiri diplomatiknya adalah Canakya, walaupun demikian Canakya tetap hidup sederhana di sebuah gubuk dibuat dari alang-alang dan tidak mau tinggal di istana atau menerima jenis gaji apapun.
Walaupun banyak kerajaan, para penakluk dan penguasa telah bangkit dan runtuh sejak itu, tetapi warisan terbesar Canakya Pandita adalah ungkapan-ungkapan Sanskrit yang ditulis olehnya. Dengan Arthasastra Kautilya, sebuah risalat tinggi dalam ilmu pemerintahan dan diplomasi, beliau menjadi populer dan dihargai karena ungkapan-ungkapannya yang bijak dalam bidang moral dan diplomasi. Bersama dengan buku-buku cerita seperti Hitopadesa dan Panca-tantra, aphorisme ini merupakan niti-sastra, atau pengetahuan tingkah laku. Ada beberapa edisi dari ungkapan-ungkapan Canakya, yang dikenal seperti Canakya-sloka, Canakya-raja-niti, Canakya-niti, Canakya-sara-sangraha dan nama-nama lain. Para sarjana seperti Dr. Ludwik Sternbach sudah berusaha keras untuk menyelidiki dan membandingkan semua edisi ungkapan-ungkapan Canakya yang berbeda. Ungkapan-ungkapan ini sudah menyebarkan kebesaran India dimana-mana, dengan menggunakan caranya sendiri memasuki Burma lewat buku Pali Lokaniti, dan kemudian ke Thailand, Laos, Cambodia, dan tempat-tempat lain. Kita menemukan ayat-ayat yang serupa di dalam kesusastraan Indonesia, Sri Lanka, di Tibetan Tanjur, dan bahkan di Mongolia.
Barangkali sulit untuk mengemukakan seperangkat ungkapan-ungkapan Canakya dengan bukti-bukti yang pasti, tetapi kita dapat menerima niti-sastra sebagai kerangka literatur rakyat yang bijak. Dalam pendahulan Panca-tantra, penulis, Visnusarma, menyatakan rasa hormatnya kepada Canakya. Pada pendahuluan Hitopadesa (“buku nasehat yang bermanfaat”), penulisnya, Nirayana Pandita, mengatakan bahwa karyanya diambil dari Panca-tantra dan buku lain. Sering dimuat sloka pinjaman yang dapat dipastikan bersumber dari kitab suci yang sudah diterapkan, seperti Bhagavad-gita (datavyam iti yad danam/diyate 'nupa-karine) dan Srimad-Bhagavatam (ahara nidra-bhaya-maithunam ca/saminyam etat pasubhir naranam). Bukanlah jiplak kutipan dari penguasa-penguasa terdahulu merupakan bagian penting dari seluruh kesausastraan Veda. Banyak ayat Canakya diambil dari atau secara jelas dipengaruhi oleh literatur Purana, Manu-smrti, dan Maha-bharata.
Mungkin sulit bagi orang-orang Barat untuk menghargai sepenuhnya bagian ungkapan-ungkapan Canakya yang telah berpesan turun temurun di India. Kalau kita mendapatkan satu sumber yang mengandung kebijakan Benjamin Franklin dan kata-kata lucunya, tulisan politik Machiavelli, dan banyak dari moralitas Judeo-Christian, itu akan mendekati pentingnya ungkapan-ungkapan Canakya di India. Banyak ungkapan ini secara gramatika sederhana dan terus terang, dan dengan demikian digunakan secara luas dalam belajar Sankskrit. Buku-buku teks yang dipakai oleh Srila Prabhupada untuk belajar Sanskrit hampir menggunakan ungkapan-ungkapan ini secara pasti, dan ungkapan-ungkapan sebagai literatur rakyat ini telah membuka hati beliau sejak anak-anak. Isi dari ungkapan-ungkapan ini lebih penting daripada sumbernya dan yang paling penting adalah konteks dimana ungkapan-ungkapan : itu digunakan oleh Srila Prabhupada.
Merupakan suatu kehormatan yang sangat istimewa dalam membantu Satsvarupa Maharaja dengan penelitian dan penyediaan beberapa terjemahan dalam buku ini. Beliau telah menjelaskan ungkapan-ungkapan itu dengan sangat bagus dengan lampu dari ajaran-ajaran Srila Prabhupada.
— Agrahya dasa
SATU
eko 'pi gunavan putro
nirgunena satena kim
ekas candras tamo hanti
na ca tarih sahasrasah
ekah - satu, api - bahkan: gunavan - saleh, putrah - putra: nirgunena - tidak bernilai, satena - dengan ratusan, kim - apa (nilai): ekah - satu: candrah - bulan: tamah - kegelapan, malam, hanti - menghancurkan, na - tidak, ca - dan, tarah - bintang-bintang: sahasrasah - ribuan.
ARTI
Bahkan seorang putera yang kualifikasinya baik, lebih baik daripada ratusan putera yang tidak bernilai. Sebuah bulan menghancurkan kegelapan malam, sedangkan ribuan bintang tidak.
ULASAN
Keberhasilan gerakan kesadaran Krsna tidak bisa diukur dengan jumlah orang yang mengikutinya. Srila Prabhupada tidak menghendaki murid-murid murahan yang tidak mampu mengikuti empat aturan - tidak melakukan hubungan suami-istri yang tidak sah, tidak makan daging, tidak berjudi, dan tidak mabuk-mabukan. Kalau tujuannya untuk mengumpulkan murid sebanyak mungkin, beliau akan sudah mengatakan, "Anda dapat melakukan apapun yang anda sukai. Hanya dengan memberikan saya uang dan saya akan memberikan anda mantra”. Anak cucu rohani Srila Prabhupada hendaknya juga menghindari menerima pengikut-pengikut murahan pada waktu berusaha menyebarkan gerakan kesadaran Krsna. Kita mesti menekankan kualitas, bukan kuantitas. Apabila kita memusatkan pada kualitas, kuantitas akan bertambah dengan sendirinya.
Guru kerohanian Srila Prabhupada, Srtla Bhaktisiddhanta Saras vat! Thakura, biasanya mengirim para pengajarnya untuk memberi. kan ceramah-ceramah di berbagai tempat. Kadang-kadang salah satu muridnya kembali dengan hati sedih dan melaporkan hanya sedikit Orang yang mengikuti ceramah. Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura akan menyemangatinya, "Jangan kecewa. Bahkan bila tidak ada orang yang datang, kita bisa mengajar pada empat tembok”. Dengan semangat yang sama ini, Prabhupada memberitahukan kira bahwa kita juga dapat menghibur hati: bahkan kecoa-kecoa di dinding dapat mendengarkan ucapan Hare Krsna. Kira dapat mengajarkan matahari, bulan, dan sepuluh arah. Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa bahkan sedikit kesadaran Krsna akan bermanfaat kepada siapapun yang dapat mendengarnya. Itu juga menunjukkan bahwa para pengajar semestinya tidak melonggarkan amanat dalam usaha untuk mendapatkan lebih banyak pengikut.
Pada waktu Prabhupada pertama kali datang ke Barat, kenalan-kenalannya menganjurkan agar beliau merundingkan prinsip-prinsipnya. Mereka menasehati agar beliau memberikan mantra Sanskrit dan menyetujui pakaian Amerika dan kebiasaan-kebiasaan makannya. Srila Prabhupada tidak pernah menanggapi nasehat-nasehat mereka. Bahkan ada orang yang menasehati agar menamakan gerakannya dengan sesuatu yang lain, "Perkumpulan Kesadaran Tuhan Internasional”, karena hal itu mungkin lebih banyak menarik pengikut. Prabhupada tidak setuju. Beliau mengetahui bahwa orang-orang lebih banyak tertarik karena kesucian daripada kompromi, seperti para pelanggan berlangganan dengan penjual manisan yang dimasak dengan ghee.
Bagaimanapun juga, pada umumnya orang-orang menilai keberhasilan dari suatu gerakan adalah dari jumlahnya, seperti mereka menilai usaha dengan modal finansialnya. pada waktu Srila Prabhupada di Australia, seorang wartawan bertanya, "Mengapa begitu sedikit persentase penduduk menerima filsafat ini?” Sebagai jawabannya, Srila Prabhupada mengutip sloka ini. "Menurut persentase, bulan tidak ada artinya. Ada begitu banyak bintang di langit, dan dari persentase bulan tidak ada artinya. Tetapi, bulan lebih penting daripada semua bintang yang tidak mempunyai arti..... Karena dia adalah bulan, dia lebih penting. Apa gunanya persentase bintang-bintang dalam kehadiran bulan? Biarlah ada satu bulan, itu sudah cukup..... Satu orang teladan. Seperti dalam dunia Kristen, Satu Tuhan Jesus Christ yang ideal?”.!
Orang yang sudah memiliki kualifikasi akan memiliki begitu banyak pengaruh. "Seandainya saya menciptakan satu bulan, itu sudah cukup. Saya tidak ingin banyak bintang. Itulah prinsip Guru Maharaja saya, dan itu prinsip saya. Apa gunanya memiliki banyak orang bodoh dan jahat. Jika satu orang mengerti dengan benar, dia mampu membebaskan seluruh dunia”.
Pernyataan "sebuah bulan” ini tidak berarti bahwa dengan memberikan penekanan pada kesucian, kita akan selalu memiliki sedikit pengikut. Kelihatannya, penduduk yang tulus hati akan tertarik sewajarnya. Karena sebuah bulan seperti penyembah yang mengajarkan dan memberikan contoh kesadaran Krsna yang murni, dia membangkitkan semangat para pengikut sejati yang akan sungguh-sungguh berlatih disiplin kehidupan rohani dan yang akan menjadi bulan seperti mereka sendiri. Para pengikut tersebut akan ikut serta dengan bulan seperti penyembah dan berkembang dengannya. Seseorang mungkin keberatan jika gerakan kesadaran Krsna telah menghasilkan banyak bulan-seperti para penyembah. Sehubungan dengan hal ini, pada waktu Prabhupada ditantang beliau menjawab, "Tetapi itu mungkin, seandainya mereka adalah orang-orang ideal”. Latihan kesadaran Krsna dimaksudkan untuk menghasilkan para brahmana. Semua penyembah yang tulus hati bertujuan meningkatkan diri di atas tingkah laku yang biasa. Karena itu, ISKCON menekankan bahwa tidak seorangpun bisa diinisiasi kalau belum mengikuti empat aturan dengan ketat dan bersedia berjapa minimal enam belas putaran setiap hari. Dengan mengikuti latihan seperti ini, bahkan orang-orang yang merosotpun dapat meningkatkan dirinya dan menjadi pemimpin-pemimpin kerohanian yang berpengaruh di masyarakat. Srila Prabhupada tidak mengharapkan setiap orang menjadi brahmana, itu tidak mungkin - tetapi, "Kita harus memberikan aturan-aturan yang ideal, bukan aturan yang kita bikin dengan kompromi dengan setiap orang. Itu bukan usaha kita”.
Srila Prabhupada dan guru kerohaniannya sendiri hidup dengan keyakinan bahwa semua usahanya akan berguna jika mereka dapat meyakinkan satu orang untuk menjadi seorang penyembah Krsna yang murni. Atas kesaksiannya sendiri, Srila Prabhupada berbahagia, kagum menyaksikan usahanya dibalas dengan di luar praduganya. "Satu bulan cukup. Promosi kami adalah menciptakan satu bulan. Tetapi, beruntung, atas karunia Krsna, tercipta banyak bulan-seperti para pemuda dan pemudi sudah datang kepadaku”.
Barangkali tidak seorangpun diantara kita akan menyatakan diri menjadi bulan. Tetap kita simpan di dalam hati apa yang Srila Prabhupada katakan. para penyembah di dalam pelayanannya semestinya tidak tertarik dalam peningkatan kwantitas saja, tetapi juga dalam peningkatan kualitas. Mengapa? Karena Srila Prabhupada mengatakan bahwa beliau akan menganggap semua usahanya berguna jika beliau mampu merubah satu diantara kita menjadi seorang penyembah Krsna yang murni. Pernyataan seperti itu merupakan perintah yang terkandung di dalamnya. Gerakan. ini dimaksudkan untuk menciptakan para penyembah murni. Semua pengajaran, semua pembagian prasadam, semua ceramah umum dan perjalanan kita serta hubungan masyarakat hanya dimaksudkan untuk menyemangatkan rasa cinta kasih kepada Krsna di dalam hati kita dan di dalam hati orang yang kita jumpai.
Sebaliknya, ciri dari seorang penyembah yang sudah menyerahkan diri adalah pelayanannya meningkat. Apapun yang mereka lakukan untuk mengembangkan misi Srila Prabhupada, apakah dalam penyebaran buku, mendirikan tempat sembahyang, atau bentuk-bentuk lain pengajaran, adalah ciri mendalamnya keyakinannya dalam kesadaran Krsna. Karena itu, kita hendaknya tidak mengejar dua bagian yang keliru diantara kuantitas dan kualitas: dari kualitas, kuantitas akan datang.
Srila Prabhupada sering mengatakan bahwa segala sesuatu hendaknya mempunyai kualitas yang baik. Kalau pengajaran, prasadam, dan bangunan-bangunan mempunyai kualitas baik, gerakan akan berkualitas. Orang-orang akan tertarik pada kualitas itu, tetapi walaupun hal tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan, para penyembah akan meneruskan menyampaikan kesadaran Krsna yang murni.
Prabhupada membicarakan hal ini dalam hubungannya dengan Bhagavad-gitanya sendiri. Perusahaan Macmillan, yang menerbitkan cetakan Amerika pertama dari Prabhupada, memberitahukan bahwa Bhagavad-gita-Bhagavad-gita yang lain menurun penjualannya sedangkan miliknya meningkat. Prabhupada mengatakan hal litu disebabkan oleh karena Bhagavad-gita nya mempunyai kualitas yang baik.
Kemudian, mengapa ISKCON tidak memiliki lebih banyak anggota? Untuk menjelaskan ini, Prabhupada menggunakan analogi yang berbalik, apabila anda menjual berlian, anda akan memiliki sedikit pembeli. Srila Prabhupada siap mempertahankan satu nilai kesucian. Beliau mengatakan bahwa seandainya beliau tidak membatasi orang-orang dari kehidupan berdosa, beliau akan memiliki jutaan pengikut.”
Walaupun sedikit penyembah akan menyatakan telah menjadi bulan, karena waktu berjalan terus, kita dapat melihat bahwa proses ini menghasilkan bulan-seperti para penyembah. Mereka yang ikut serta dalam gerakan ini bukanlah orang-orang biasa. Mereka mengembangkan rasa kemanusiaan dan rasa kasih sayang, rasa cinta pada Vrndavan dan kepada Arca. Mereka mencintai Krsna. Prabhupada menyatakan bayangan bulan yang lain bahwa walaupun bulan mungkin memiliki permukaan yang burik, dia tetap bersinar terang di langit. Kualitas para penyembah meningkat, kita hendaknya tidak mengukur kualitas mereka dari kesalahan-kesalahan mereka.
Prabhupada adalah bulan-seperti penyembah dan kita semua adalah pantulan dari sinarnya. Tuhan Gauracandra adalah bulan berkah yang asli. Karunia Beliau senantiasa bertambah dan kita semua diberkahi.
Sloka Canakya mengandung dua kiasan, satu membandingkan bulan dan bintang-bintang, dan satu lagi menjelaskan bagaimana "seorang anak yang berkualifikasi lebih baik dari ratusan anak yang bodoh”. Srila Prabhupada menerjemahkan hal ini sebagai berikut : ”Apa gunanya mendapatkan anak yang tidak terpelajar atau tidak penyembah:!..... Dua hal diperlukan, putera semestinya penyembah dan terpelajar. Tanpa terpelajar, tidak seorangpun dapat menjadi penyembah. Dan seandainya seseorang menjadi penyembah, maka dia menjadi terpelajar. Kadang-kadang dia mungkin tidak terpelajar secara material, itulah yang terjadi. Atau kadang-kadang dia mungkin juga bukan penyembah. Jadi, jika orang itu tidak terpelajar dan tidak penyembah, apakah manfaat dari anak itu?"
Ada pernyataan-pernyataan yang serupa dalam Niti-sastra. Seandainya mata orang buta.menyakitkan, lebih baik dihilangkan mata itu. Penyair Hindu, Tulasi dasa, mengatakan bahwa baik putra (putera) dan mutra (air kencing) berasal dari sumber yang sama. Seandainya putera bukan sarjana atau bukan penyembah, maka dia tidak lebih baik dari air kencing. Untuk menyatakan hal yang sama secara positif : sekuntum bunga yang harum dapat memperindah hutan, tetapi api dalam sebuah pohon dapat menghancurkan segala sesuatu.
Sesuai dengan ungkapan-ungkapan ini, orang-orang yang tidak berkualifikasi tidak saja tidak berguna, mereka juga berbahaya dan bersifat suka merusak. Akan tetapi, seorang Vaisnava yang murni dapat mengangkat seluruh dunia.
Orang yang tidak berkualifikasi, tidak menjadi soal bagaimanapun kuatnya, atau bagaimanapun populernya, tidak dapat melakukan apapun yang baik atau kekal. Karena itu, para guru, pemerintah, dan yayasan-yayasan hendaknya selalu mencari jalan untuk mendorong kualitas rohani yang murni para pengikutnya dan berkeinginan untuk mendapatkan kualitas yang sama pada diri mereka sendiri. Itulah caranya bagaimana mereka dapat menguntungkan masyarakat.
Apakah kualifikasi bulan-seperti penyembah! Ketika penyembah bertanya kepada Srila Prabhupada tentang apa yang paling menyenangkan beliau, beliau berkata, ”Jika kamu mencintai Krsna”.' Semua sifat lain merupakan sifat yang lebih rendah menuju satu prinsip mencintai Krsna. Dari mencintai Krsna semua sifat lain muncul kebenaran, kebersihan, kedamaian, dan kasih sayang. Apabila penyembah mencintai Krsna, dia sewajarnya patuh dan mengabdi kepada guru kerohaniannya. :
Srila Prabhupada sering menggunakan kata "berkualifikasi” lebih umum. Berkualifikasi berarti bahwa seorang penyembah terlatih baik, sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dan itulah maksudnya, sehingga aphorisme Niti-sistra ini hanya dapat didefinisikan dan dihidupkan oleh Vaisnava acarya.
1 Pembicaraan di kamar, Melbourne, 21 Mei 1975:
2 Jalan pagi, Bombay, 23 Maret 1974.
3 Jalan pagi, Los Angeles, 23 Juni 1975.
4 Ceramah, New York, 12 April 1969.
5 Pembicaraan di kamar, Bombay, 7 Januari 1977.
6 Ceramah, Bombay, 1 Oktober 1974.
7 Ceramah, New York, 12 April 1969.
DUA
rna-karta pita satrur
mata ca vyabhicarini
bharya rupavati satruh
putrah satrur apanditah
rna-karta - pembuat hutang: pita - ayah: satruh « musuh, mata - ibu: ca - juga (musuh): uyabhicarini - goyah (tidak suci): bharya - istri, rupavati - cantik, satruh - musuh, putrah - putra, satruh - musuh: apanditah - tidak terpelajar.
ARTI
Seorang ayah yang menghidupi keluarga dengan hutang, ibu yang tidak suci, istri yang sangat cantik, dan putra yang bodoh semuanya musuh.
ULASAN
Musuh-musuh di rumah adalah ciri dari Kali-yuga. Kali-yuga adalah zaman pertengkaran. Orang-orang bertengkar di seluruh dunia di antara negara-negara, di dalam negara mereka sendiri, di dalam masyarakat, dan di dalam keluarga. Tidak seorangpun dapat hidup damai.
Seandainya ayah menghidupi keluarga dengan hutang, keluarga akan menderita kemiskinan bahkan setelah kematiannya. Anggota keluarga diikat bersama dengan karma bersama, walaupun masing-masing orang dalam keluarga memiliki nasib sendiri untuk diselesaikan. Seandainya sang ayah adalah orang yang berhutang, seluruh keluarga dipaksa untuk menderita. Jika sang ayah meninggal dengan hutang, si anak akan mewarisi hutang itu. Prabhupada menulis, "Menurut hukum Veda, si anak bertanggung jawab atas hutang sang ayah. Dia mewarisi kekayaan, jadi mengapa dia tidak mewarisi hutang-hutang sang ayah?”'
Prabhupada memberikan contoh pengacara politik yang terkenal, C.R. Das. Ayahnya meninggal bangkrut, maka pada waktu C.R. Das menjadi seorang pengacara kaya, dia memanggil mereka yang memberikan pinjaman kepada ayahnya dan membayarnya "dengan angsuran”. Akan tetapi, apabila si anak orang yang miskin dan tidak mampu membayar hutang ayahnya, maka dia terganggu dalam sisa hidupnya. Dengan demikian, sang ayah menjadi musuh.
Sang ayah juga adalah musuh, jika dia tidak mendidik anak-anaknya dalam kesadaran Tuhan. Srimad-Bhagavatam mengatakan bahwa tidak seorangpun bisa menjadi seorang ayah jika dia tidak mampu membebaskan anak-anaknya dari kematian. Satu-satunya jalan yang membebaskan anak-anak seseorang adalah dengan memberikan mereka kebudayaan rohani. Prahlada Maharaja menyaksikan ayahnya dibunuh dan tidak memprotes. Karena ayahnya menentang kesadaran Krsna, dia adalah musuh dalam keluarganya. Karena dia adalah seorang kaisar, rasa permusuhannya dengan kesadaran Krsna membuatnya sebagai musuh seluruh alam semesta. Karena itu, dia dibunuh oleh Tuhan Nrsimhadeva.
Ajaran-ajaran moral Canakya adalah paling baik untuk dilakukan dalam kontek peradaban Veda. Moralitas lebih sulit untuk diikuti tanpa struktur kesadaran Tuhan. Bagaimanapun kurangnya kebudayaan itu tidak membuat moralitas ketinggalan zaman. Kita prihatin melihat bagaimana masyarakat telah menjadi merosot sehingga sekarang ajaran-ajaran pokok ini dianggap tidak mungkin untuk diikuti.
Sebagai contoh, di dalam peradaban Veda, seorang perempuan yang tidak memiliki anak bisa kawin untuk kedua kalinya apabila suaminya meninggal. Seandainya seorang perempuan kawin untuk kedua kalinya dengan adanya anak-anak, perempuan itu menjadi musuh dari anak-anak itu.2 Perzinahan tidak mempunyai tempat dalam kebudayaan Veda, atau untuk hal itu, dalam tradisi orang Kristen - Judeo. Srila Prabhupada menyatakan, "Di dalam kehidupan keluarga, ayah, ibu, istri dan anak-anak adalah modal, tetapi apabila istri atau ibu menerima suami lain dalam keberadaan suaminya atau putranya, maka, sesuai dengan peradaban Veda, dia dianggap musuh. Seorang perempuan yang suci dan penuh keyakinan tidak boleh melakukan perzinahan” 3
Naskah ini menjelaskan seorang perempuan yang begitu bernafsu sehingga dia tidak dapat tetap suci untuk satu suami. Hal itu mungkin merupakan kesalahan suami atau kesalahan istri, tetapi jika seorang istri menjadi tertarik dengan laki-laki lain, maka terjadilah kekacauan dan kejadian yang menyedihkan. Demikian juga, kalau si laki-laki menghancurkan ketegaran keluarga dengan melakukan perzinahan, dia juga menjadi musuh. Di dalam grahasta-asrama, tugas seorang suami adalah mengendalikan dan mengarahkan istrinya. Prabhupada menulis, "Dengan melaksanakan bhakti yoga atau pengabdian suci bhakti, seseorang dapat ditingkatkan pada tingkat kebaikan. Seandainya sang suami berada dalam sifat kebaikan dapat mengendalikan istrinya dari sifat nafsu dan kebodohan, perempuan itu diuntungkan. Dengan melupakan kecenderungan alaminya pada nafsu dan kebodohan, perempuan itu menjadi patuh dan setia pada suaminya, yang berada dalam sifat kebaikan. Kehidupan seperti itu menjadi sangat menyenangkan”.
Untuk merasakan bagaimana ayah yang berhutang atau istri yang tidak suci merupakan musuh dalam keluarga adalah tidak sulit, tetapi mengapa istri yang cantik dianggap musuh? Suatu alasan bahwa orang itu mungkin menjadi terikat secara berlebihan kepada istrinya yang cantik. Laki-laki lain mungkin juga menjadi tertarik dengannya dan dapat menimbulkan perzinahan. Ravana menculik Sita karena kecantikannya. Sang suami akan selalu dalam kecemasan. Srila Prabhupada memberitahukan kita bahwa pada waktu beliau masih muda, beliau tidak puas dengan gadis yang telah dipilih ayahnya untuk menjadi istrinya. Beliau tetap tidak tertarik dengannya walaupun gadis itu kelihatannya setia dan berkualifikasi. Setelah merencanakan untuk mengawini istri kedua, beliau mendiskusikan hal itu dengan ayahnya. Gour Mohan De tidak mengijinkannya. "Kemudian, pada suatu hari beliau memanggilku dan berkata, ' Anakku — tersayang, engkau berusaha untuk kawin lagi. Saya minta jangan lakukan ini. Kamu tidak menyukai istrimu. Itu merupakan keuntungan yang besar bagimu” Mengingat hal itu, kemudian dalam hidupnya, Prabhupada berterima kasih kepada ayahnya dan melihat larangannya sebagai sesuatu karunia besar. Seandainya beliau menjadi terlalu terikat dengan istri cantik, beliau tidak dapat begitu mudah meninggalkan rumah dan mengambil sannyasa. Dari titik pandangan rohani, menjadi terlalu terikat pada istri merupakan hambatan.
Siapa istri cantik itu? Cantik itu bersifat subjektif. Kecantikan ada pada mata orang yang melihat. Terutama pada usia muda, seorang perempuan menarik bagi laki-laki. "Karena rencana alam wanita diberikan satu kesempatan pada waktu masih muda. Kalau tidak demikian, bagaimana dia akan diberikan perlindungan oleh seorang laki-laki? Mereka memerlukan perlindungan, jadi seandainya seseorang tidak tertarik, bagaimana dia mendapatkan perlindungan?”
Ayat ini bukan saja menjelaskan seorang "ratu cantik”, tetapi wanita manapun yang menarik suaminya. Apakah itu berarti bahwa setiap istri adalah musuh suaminya? Wanita tidak perlu dipandang dengan cara itu jika sang suami melonggarkan keterikatannya pada istrinya dan jika sang istri tekun dalam pelayanan Krsna. Srila Prabhupada sering memberitahu kita untuk melihat saudari-saudari seperguruan kita ”seperti para gopi.” Mereka itu bukan dimaksudkan untuk memuaskan indria-indria kita. Orang yang bisa melihat kecantikan istrinya sebagai milik Krsna dapat hidup damai bahkan dalam kehadiran si istri cantik. Kecantikan itu sendiri bukanlah musuh, keterikatan pada kecantikan itu yang berbahaya.
Aphorisme ini mengandung arti dan dapat dipikirkan dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh, ayah yang meninggalkan keluarganya dengan hutang adalah musuh, tetapi seandainya ayah yang sama memberikan anak-anaknya pendidikan kesadaran Krsna dengan baik, ditambah uang $ 10 juta untuk tiap-tiap anaknya maka dia telah membawa mereka pada pelayanan yang paling baik dan menjadi juru selamat mereka yang paling mulia. Sebaliknya, Joe Kennedy, yang hanya mewariskan uang $ 10 juta untuk tiap-tiap anaknya, maka ayahnya adalah musuh mereka yang paling besar karena ayahnya juga mewariskan kepada mereka kealpaan keinsyafan-diri.
Putra-putri yang bodoh merupakan beban keluarga. Di dalam Srimad-Bhagavatam, kita membaca putra Raja Anga, Vena, adalah seorang penjahat dan bajingan. Raja Anga adalah orang suci. Beliau terganggu oleh anaknya yang jahat, dengan demikian beliau meninggalkan kerajaannya dan pergi ke hutan.
Dengan semua beban ini dan musuh-musuh yang mungkin terdapat di dalam kehidupan berumah tangga, orang yang cerdas tidak akan menganggap kehidupan keluarga merupakan tempat perlindungan yang paling utama. Selain itu, situasi-situasi bermusuhan ini dialami oleh semua orang tanpa kecuali. Pada waktu Hiranyakasipu, orang yang sangat terikat dalam kehidupan berumah tangga, bertanya kepada puteranya tentang apa yang paling baik yang telah dia pelajari di sekolah, Prahlada menjawab bahwa sesuatu yang paling baik adalah keluar dari kehidupan keluarga, yang bagaikan sebuah sumur gelap yang penuh dengan ular. Prabhupada menulis, "Karena itu, menurut kebudayaan Veda, seseorang harus meninggalkan anggota keluarganya setelah ia berumur lima puluh tahun, sehingga keseimbangan hidupnya mungkin dipersembahkan sepenuhnya untuk menekuni kesadaran Krsna”.!
Para penyembah mungkin bertanya keserasian dari diskusi ini dengan usahanya sendiri untuk mempraktekkan kehidupan keluarga berkesadaran Krsna. Tentu saja, bahkan di dalam ISKCON pun, kita melihat perzinahan, kawin lagi, dan hutang-piutang, karena itu aturan-aturan moral Canakya relevan untuk kita.
Di samping itu, kita dapat menganggap seluruh gerakan kesadaran Krsna sebagai suatu keluarga. Srila Prabhupada sering membandingkan antara guru kerohanian dengan murid-murid dan ayahnya dengan anak-anak. Karena itu, kalau seorang 'anak' berkelakuan seperti orang bodoh atau seorang wanita berbuat tidak suci, hal itu mempunyai pengaruh pada setiap orang. Begitu juga, kalau para penyembah bertingkah laku suci, seluruh keluarga ISKCON diuntungkan. Menurut Prahlada Maharaja, kita tidak mempunyai musuh selain pikiran dan indria-indria kita sendiri. Inilah pandangan mahabhagavata. Akan tetapi, Srila Prabhupada juga mendorong kita untuk melindungi gerakannya dari musuh-musuh yang berasal dari dalam maupun luar. Beliau mengatakan bahwa bahaya yang sesungguhnya pada gerakan kita akan muncul dari dalam gerakan itu sendiri. Bahaya" itu menunjukkan dirinya dalam bentuk perpecahan dan percekcokan: 1, ISKCON dimaksudkan untuk menjadi satu unit keluarga. Keluarga dimaksudkan agar menjadi damai dan produktif, dan bekerja menuju tujuan bersama. Namun, di dalam keluarga mungkin. ada musuh. Sebagai contoh, seandainya seseorang menyalahgunakan - atau menyelewengkan dana yang dimaksudkan untuk menyebarkan kesadaran Krsna, seandainya para penyembah tidak berusaha memelihara tingkah laku yang bermoral tinggi, pengajaran bersama kita akan dikalahkan. Orang-orang seperti itu menjadi musuh-musuh dalam pengajaran. Apapun yang dilakukan dalam pelaksanaan bhakti tidak boleh kita lakukan dengan kebodohan. Anak yang bodoh adalah musuh.
1 Ceramah, Vrndavana, 2 September 1976.
2 Ceramah, Los Angeles, 25 Juni 1915.
3 Bhag. 3.23.3, penjelasan.
4 Bhag. 427.1, penjelasan.
5 Jalan jalan pagi, Mayapur, 22 Januari 1916.
6 Ibid
7 Bhag. 4.13.21, penjelasan.
Tiga
lalayet panca-varsani
dasa-varsani tadayet
prapte tu sodase varse
putram mitra-vad-acaret
lalayet : longgar, panca-varsani : selama lima tahun: dasa-varsani: selama sepuluh tahun, tadayet : menghukum (dengan keras); praprte: dalam mencapai, tu: tetapi, sodase: pada enam belas: varse: dalam tahun: putram: putra, mitra-vat : seperti teman: acaret : seseorang hendaknya berkelakuan.
ARTI
Bersikap longgarlah pada anak sampai berumur lima tahun. Setelah itu, sampai berumur sepuluh tahun, bersikaplah keras. Apabila anak mencapai umur enam belas tahun, perlakukan dia seperti teman.
ULASAN
Kelihatannya Srila Prabhupada di dalam melatih putra-putri rohaninya, membuat tiga macam hubungan yang dijelaskan dalam Sloka ini. Beliau juga membedakan perlakuannya dengan individu. individu yang beraneka ragam.
Pada waktu kami bertemu Srila Prabhupada tahun 1966, kami tidak mengetahui siapa beliau sebenarnya. Kami tidak tahu apapun tentang kualifikasi seorang guru kerohanian atau tugas kewajiban seorang murid. Srila Prabhupada mengetahui hal ini dan tidak memaksakan otoritasnya atau mengambil peran seorang ayah. Akan tetapi, perlahan-lahan beliau memikat rasa cinta kasih dan hormat kira.
Pada musim panas tahun 1966, Prabhupada memberikan ceramah di mana beliau mengatakan tentang "taman kanak-kanak kehidupan tuhan" Beliau mendorong kita mengalihkan kecenderungan hati kita di dalam pengabdian suci kepada Kṛṣṇa Di dalam bhakti-voga, beliau mengatakan, seseorang mengendalikan indria-indria tidak dengan menghentikan kegiatannya, tetapi dengan menyibukkannya dalam pelayanan Krishna Beliau mengatakan bahkan itu tidak akan menyebabkan sedikit keasulitanpun kepada yang melakukan dan akan membawanya ketingkatan yang paling tinggi dengan "mengalihkan kesadaran individu ke kesadaran yang paling utama"! Awal hari-hari ini ditandai dengan sikap longgar Prabhupada terhadap murid-muridnya
Ayah Prabhupada sendiri bersikap longgar kepadanya pada waktu beliau sedang mengalami pertumbuhan. Gour Mohan De tidak suka mengekang puteranya, dia selalu mengabulkan permintaannya. Prabhupada mencintai ayahnya sebagai seorang penyembah murni dan juru selamat yang penuh dengan kasih sayang.
Ibu Yasoda juga mengizinkan Krishna melakukan apapun yang beliau suka, asalkan tidak membahayakan keselamatanNya. "Krishna, sayangku, mengapa Engkau memakan tanah di tempat sunyi: Lihatlah semua temanMu, termasuk Balarama, mengadukan diriMu..... Baiklah, jika Engkau tidak memakan tanah liat, maka bukalah mulutMu. Saya akan melihatnya".
Kelihatannya bahwa Tuhan Yang Maha Esa pun menundukkan diri Beliau pada disiplin tegas hukuman orang tuaNya. Caitanya Caritamrta memberitahukan kita bahwa "setelah melihat perbuatan nakal puteranya, Jagannatha Misra memberikanNya pelajaran moral setelah memarahiNya dengan keras”. Kemudian, di dalam mimpi seorang brahmana muncul di hadapannya dan memberitahukannya bahwa dia telah melakukan kesalahan dengan memarahi Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Jagannatha Misra menjawab, "Anak ini mungkin seorang dewa, yogi ahli kebatinan atau orang suci yang mulia Itu tidak menjadi soal, apapun Beliau, karena saya beranggapan Beliau hanyalah putraku. Tugas kewajiban seorang ayah adalah mendidik putranya baik dalam bidang agama ataupun moral. 15
Seandainya saya tidak memberikan pendidikan ini kepadaNya, bagaimana Beliau akan mengetahuinya? Bahkan walaupun putra saya bukan manusia biasa melainkan Narayana, tetap tugas kewajiban sang ayah mengajarkan putranya”?
Mi menjalankan disiplin tanpa kasih sayang. Beliau tidak setuju dengan "penggunaan tongkat”. Beliau memberitahu para guru di gurukula bahwa mereka bisa memperlihatkan tongkat, tetapi jangan sampai menggunakannya.
Setelah berlangsung taman kanak-kanak di Lower East Side, sedikit demi sedikit Srila Prabhupada menjadi lebih keras dengan murid-muridnya. Beliau mulai menegur kami dengan keras. Sebagai alat bantu pengajarannya, beliau menggunakan kritikan dan sindiran yang tajam. Saya takut dengan sindiran tajamnya - kata-katanya bisa menusuk saya - tetapi saya mengetahui apapun yang beliau katakan bukan keakuan palsu. Beliau memimpin kami dengan kasih sayang, dan kami takut mengecewakannya. Kami mengikuti beliau karena kami ingin. Karena itu, beliau bisa menyampaikan tegurannya bahkan tanpa dengan kata-kata, dengan mengerutkan dahi atau menunjukkan wajah kecewa. Bahkan kini, setelah beliau meninggalkan tempat ini, saya kadang-kadang melihat Srila Prabhupada dalam mimpi. Seandainya beliau kelihatannya kecewa dengan saya, saya merasakan perlu mengubah untuk meralat cara saya. Mengapa Srila Prabhupada memperlihatkan rasa ketidaksenangannya kepada kita? Untuk melatih kita. Kita tidak meragukan kepantasan dari teguran-tegurannya.
Di dalam Buku Harian Rohani-nya, Prabhu Hari Sauri menguraikan tiga tingkatan kemarahan Prabhupada. Apabila Prabhupada agak marah, beliau akan berbicara dengan kata-kata tajam. Seandainya lebih keras marahnya, bibir bawah beliau akan gemetar. Kalau seorang murid melakukan kesalahan besar, Prabhupada tidak akan berbicara kepada murid tersebut. Reaksi-reaksi ini muncul secara spontan. Reaksi-reaksi ini bukanlah teknik yang mendapatkan perhitungan untuk mengawasi murid-murid.
Prabhupada juga tidak pernah dendam kepada murid-muridnya. Beliau bisa memaafkan dan melupakan. Sri Caitanya kadang-kadang memberi hukuman yang sangat berat kepada penyembah-penyembahNya tertentu. Sebagai contoh. Beliau membuang Junior Haridasa dan mengancam membuang Mukunda dari pergaulan pribadiNya. Semua penyembah Tuhan Caitanya mencintai Beliau lebih dari mencintai hidup itu sendiri. Disingkirkan dari pergaulan Tuhan lebih jelek dari kematian. Srila Prabhupada tidak pernah membuang murid manapun. Beliau menegur mereka, memperlihatkan kemarahan atau kekecewaannya, tetapi beliau selalu menyambut baik penyembah yang kembali memperbaiki dirinya.
Yang mendapat teguran dari Srila Prabhupada, bukan saja murid-muridnya sendiri, tetapi juga kadang-kadang beliau berbicara keras dan tajam kepada para tamu. Pernah Dr. Patel jalan-jalan dengan Prabhupada di Juhu Beach. Pada perjalanan itu, Prabhupada sering mengkritik para pejuang India, dan terjadilah perang tanding pendapat, Dr. Patel berseru, "Anda begitu keras!” Prabhupada menjawab, "Ya, saya harus keras". Dr. Parel berkata, "Bukan saja keras, anda kasar dan tajam!” Prabhupada menjawab, "Saya harus begitu!"
Di dalam suasana hatinya yang bagaikan petir, Prabhupada secara rohani sudah benar. Akan tetapi, seringkali petir diikuti oleh bunga mawar. Ini merupakan contoh dari kebijaksanaan "saling memaafkan”-nya :
Pernah, ketika Prabhupada di Calcutta, seorang penyembah diterima untuk mengantarkannya dengan mobil ke lapangan udara. Penyembah itu adalah orang yang berumah tangga, dan melihat ada kesempatan bisa menggunakan kendaraan untuk beberapa keperluan, kemudian dia pergi dulu. Di kota, dia tertahan dan tidak kembali , pada waktunya untuk mengantarkan Prabhupada. Karena kendaraan itu tidak sampai pada waktunya Prabhupada mulai mencela penyembah itu pada penyembah-penyembah lain yang hadir. Beliau mengatakannya bajingan, atau lebih dari itu, "bajingan bandel”. Beliau mengatakan penyembah itu hanya tertarik dengan kepuasan indria. Pada akhirnya, mobil dan sopir lain harus diusahakan dan Prabhupada bisa mendapatkan pesawatnya.
Kemudian penyembah yang berumah tangga itu mendengar kemarahan Prabhupada dan menulis surat untuk meminta maaf dengan rendah hati. Prabhupada menghapuskan keadaan itu seperti sesuatu yang tidak penting lagi dan kita dapat melihat bahwa beliau bebas dari rasa dendam atau amarah yang masih ada terhadap penyembah itu. Begitulah selalu Prabhupada. Ini menunjukkan bahwa kemarahan Prabhupada berisikan maksud tertentu dan bukan tidak terkendalikan.
Prabhupada pernah mengutip sloka Canakya ini ketika berbicara dengan seorang pengunjung, Tuan Koshi. Prabhupada berkata, "Dan dari umur lima sampai lima belas tahun, anda hendaknya menghukum anak-anak dan murid-murid persis seperti harimau”.
Tuan Koshi menyarankan, "Menggunakan tongkat”.
Prabhupada : "Ya”.
Tamal Krishna : "Begitulah cara anda melatih kami, Srila Prabhupada”.
Tuan Koshi : "Apakah anda yang mendapatkan?”
Tamal Krishna : "Ya, oleh Prabhupada. Walaupun kami tidak berumur lima tahun, beliau memperlakukan kami seolah-olah kami lima tahun. Karena secara rohani kami masih seperti itu. Sehingga beliau sangat keras dengan kami”.
Prabhupada : "Semua pemuda ini saya hukum dengan keras. Bahkan walaupun sedikit kesalahan”.
Tuan Koshi : "Anda.....?'
Prabhupada : "Mereka sabar menghadapi. Mereka tahu”.
Suatu hari ketika Prabhupada memperbaiki tingkah laku para pemimpin tempat sembahyang Mayapur, salah satu diantara mereka menulis kembali dan menyatakan sakit hatinya atas kata-kata Prabhupada. Prabhupada memberitahukan dia agar tidak bersedih apabila beliau memperbaikinya. Sebagai seorang guru kerohanian, adalah' tugas kewajiban beliau untuk menemukan kesalahan murid-muridnya bahkan walaupun tidak ada kesalahan. Contoh-contoh seperti ini membantu kita untuk mengerti pikiran Prabhupada dan sifat tegurannya.
Para pengikut Prabhupada menerima teguran-tegurannya dengan hati yang berat, karena kita sangat menginginkan agar beliau senang. Menyenangkan guru kerohanian merupakan kunci untuk berhasil dalam kehidupan kerohanian. Para penyembah sering juga merasakan berat untuk mengemban tanggung jawab untuk memperbaiki diri mereka.
Tentu Saja, kita tidak bisa mengerti pikiran Acarya, tetapi kita pasti mengetahui bahwa Prabhupada tidak menggunakan teknik manipulasi dalam memotivasi kita. Prabhupada tidak berusaha untuk mencari teman-teman dan mempengaruhi orang-orang. Tidak ada hal tipu-menipu dalam tegurannya, dan beliau tidak memperhitungkan semua. Kalau Prabhupada kelihatan sedih dan kecewa, beliau dalam keadaan bersedih dan kecewa. "Kamu adalah muridku. Mengapa kamu lakukan ini?” Prabhupada adalah para-dukha-duhkhi. Rasa kasih sayang beliau membuatnya merasa kecewa pada kelakuan buruk murid-muridnya. Dan teguran itu merupakan akibat dari rasa kasih sayangnya.
Para penyembah sangat senang mempelajari kehidupan Prabhupada baik dari luar maupun dalam, namun kita tidak bisa menirunya. Kalau kita kelihatan sedih dan kecewa dengan bawahan, itu tidak akan membawa bobot yang sama seperti wajah Prabhupada. Prabhupada memiliki begitu banyak potensi sehingga beliau menyemangatkan kita untuk menyerahkan diri kepadanya. Penyerahan diri kira memberikannya wewenang untuk mengendalikan hati kita.
Ayat tersebut menyatakan bahwa kekerasan diterapkan sampai seorang anak berumur lima belas tahun, dan kemudian orang tua semestinya menjadi sahabat anak itu. Para pengikut Srila Prabhupada barangkali bertanya, "Kapankah kami akan mencapai umur enam belas tahun dan diperlakukan seperti teman oleh guru kerohanian kami?” Seperti yang saya katakan sebelumnya, Prabhupada memadukan tiga teknik disiplin ini. Kadang-kadang beliau memperlakukan kita seperti anak berumur lima tahun, kadang-kadang seperti berumur sepuluh tahun, dan kadang-kadang seperti teman.
Masih tetap pertanyaannya : pernahkah seorang murid "menginjak enam belas tahun", berjabatan tangan dengan gurunya, dan menganggap dirinya sendiri sudah dewasa?
Di hadapan guru kerohaniannya, seorang murid selalu ingin kelihatan seperti orang bodoh, tetapi dia semestinya bukan orang bodoh. Dia mesti berusaha bekerja keras untuk menjadi matang di dalam kesadaran Krsna. Apabila sang murid sudah matang, hubungannya dengan gurunya akan lebih didasarkan atas persahabatan, walaupun sang murid selalu tetap sebagai pelayan sang guru. Persahabatan itu dapat merupakan ciri kematangan sang murid.
Srila Prabhupada menjelaskan dalam sebuah surat bahwa pada awalnya, sang murid tidak bertindak bebas. Dia harus melaksanakan setiap perintah. Karena sang murid menjadi semakin dewasa, dia mendalami perintah-perintah guru dan dia diberikan lebih banyak kebebasan.
Para penyembah mengalami tingkatan yang berbeda-beda. Pada awalnya, keinginan kesadaran Krsna mereka tidak bersemangat. Kemudian, mereka dengan sukarela memberikan kecerdasan dan kasih sayangnya. Itulah awal dari persahabatan antara guru dengan murid.
Setelah berpulangnya Srila Prabhupada, sudah ada peningkatan sikap longgar karena kenyataannya beliau tidak lagi mendesak muridnya dengan tongkat. Sekarang terserah pada kita untuk berbuat sebagai putera dan putri dewasa yang bertanggung jawab, karena persahabatan dan tugas kewajiban, atau bahkan karena rasa takut. Kepatuhan kita harus ada di dalam. Dalam beberapa hal, perpisahan dengan Prabhupada meninggalkan rasa tanpa bimbingan kepada kita, tetapi apabila kita mendalami sikap cinta kasih kita kepada beliau dan membiarkan sikap itu terjadi, kita menemukan bahwa kita masih didorong untuk mengikuti guru kerohanian kita dan mempersembahkan hidup kita untuk melayaninya. Seseorang berpikir tentang contoh Srila Prabhupada sendiri. Beliau melayani guru kerohaniannya secara mendalam, dengan bersahabat, dan hidup untuk menjalankan perintah Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati sampai tingkatan tertinggi.
Di dalam sebuah ceramah Srimad-Bhagavatam, Prabhupada menjelaskan hubungannya dengan murid-muridnya seperti hubungan ayah dengan anak-anak yang sudah dewasa :
Tidak diinginkan pada usia dewasa, kamu mesti juga dihukum. Hukuman itu juga sulit karena kalau murid atau anak yang sudah dewasa dihukum, kemudian dia melanggar..... Kita hendaknya menyadari bahwa "hukuman ini merupakan aturan dan peraturan kita. Kita harus memahaminya”. Canakya Pandita menasehati, prapte tu sodase varse/putram mitra-vad-acaret, "Setelah berumur enam belas tahun, murid atau anak semestinya diperlakukan sebagai teman”..... Jadi permohonan kami adalah daripada menghukum, dengan mencakupkan tangan saya memohon padamu, jangan menjadi hippies lagi dengan memelihara rambut. Bersihkan kepalamu paling sedikit sekali sebulan. Saya tidak mampu menghukummu. Saya juga orang tua: kamu orang-orang muda. "Saya tidak mampu menghukummu. Saya juga orang tua, kamu orang-orang muda”. Krsna besabda serupa tentang ayahNya ketika para gopi mengancam melaporkanNya kepada Nanda Maharaja karena mencuri pakaian-pakaian mereka. Krsna menjawab, "Seandainya engkau mengadu kepada ayahKu, Aku tidak akan peduli, karena Aku tahu ayahKu sudah tua dan tidak bisa berbuat apapun kepadaKu”.!
Kita mengetahui bahwa apabila anak mulai memasuki umur belasan, dia bisa berdiri dan secara fisik menentang kekuasaan ayahnya. Prabhupada mengakui bahwa murid-muridnya bukan anak-anak, tetapi insan-insan dewasa. Beliau juga mengetahui bahwa mereka sudah bisa berontak melawan orang tua dan masyarakatnya sehingga mereka bisa mengikuti kesadaran Krsna. Karena itu, beliau mengatakan beliau harus mencakupkan tangan meminta kepada murid-muridnya, untuk mencukur rambut mereka.
Kehendak beliau untuk melatih kita, dan keinginan kita untuk dilatih, membuat hubungan kita dengan Prabhupada melampaui ruang lingkup yang bersifat duniawi. Di dunia material, hubungan-hubungan didasarkan atas perjuangan untuk mendapatkan kekuatan, Penyerahan diri murid disimpulkan dengan dandavat-nya yang penuh. Seorang murid secara badaniah bersujud di hadapan guru, tetapi dia bahkan lebih mempersembahkan dirinya melalui pelayanan. "Kini anda bisa membunuh saya atau menyelamatkan saya, kalau anda menginginkan”. Krsna tidak akan mengambil kita sebelum kita menyerahkan diri kita kepada guru kerohanian.
Karena itu, Prabhupada mengambil tanggung jawab untuk melatih murid-muridnya secara sungguh-sungguh. Bahkan walaupun beliau tidak menegur kita karena kebodohan juga, beliau meminta agar kita menggunakan kecerdasan kita. Beliau juga tidak pernah kompromi dengan ajaran-ajarannya sendiri. Di dalam satu atau cara lain, beliau menjaga kita di bawah pengawasannya - untuk keselamatan kita dan untuk kesejahteraan kita pada jalan kembali menuju Tuhan.
1 Ceramah, New York, 19 April 1966
2 CC. Adi 14 86-89
3 Jalan-jalan pagi, Bombay, 23 Maret 1974.
4 Interview, Bombay, 5 April 1977.
5 Surat, 2 Januari 1972.
6 Ceramah. Vrindavan, 29 November 1976.
7 Krsna, Volume 1, Bab 22. hal 154
Komentar
Posting Komentar