Srimad-Bhagavatam skanda 10.12


Bab 87, Doa-Doa Kepribadian Veda, Sloka 23:

nibhṛta-marun-mano-’kṣa-dṛḍha-yoga-yujo hṛdi yan
munaya upāsate tad arayo ’pi yayuḥ smaraṇāt
striya uragendra-bhoga-bhuja-daṇḍa-viṣakta-dhiyo
vayam api te samāḥ sama-dṛśo ’ṅghri-saroja-sudhāḥ
 
𝐂𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐚, 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡-𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐩𝐚𝐢 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐨𝐛𝐣𝐞𝐤 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐬𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐫𝐞𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐣𝐚𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮𝐢 𝐲𝐨𝐠𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬, 𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐝𝐫𝐢𝐚-𝐢𝐧𝐝𝐫𝐢𝐚. 𝐃𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐚𝐧 𝐩𝐮𝐥𝐚, 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐫𝐮𝐭𝐢, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐮𝐦𝐮𝐦𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐄𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐩𝐮𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐠𝐚𝐥𝐚𝐧𝐲𝐚, 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐞𝐤𝐭𝐚𝐫 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐚𝐤𝐢-𝐩𝐚𝐝𝐦𝐚-𝐌𝐮 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐧𝐢𝐤𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚𝐢𝐬𝐮𝐫𝐢-𝐌𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐞𝐫𝐭𝐚𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧-𝐌𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐫𝐤𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐞𝐤𝐮𝐤-𝐥𝐞𝐤𝐮𝐤, 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐄𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐚𝐢𝐬𝐮𝐫𝐢-𝐌𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐭𝐚𝐫𝐚.
 
PENJELASAN: Menurut Acarya Sri Jiva Gosvami, beberapa sruti—seperti misalnya Gopala-tapani Upanisad—yang mengidentifikasi Sri Krsna sang anak gembala sapi sebagai Brahman yang mutlak dalam aspek yang tertinggi, sejauh ini dengan sabar menunggu giliran untuk berbicara. Tetapi, setelah mendengar para sruti lainnya memanjatkan doa-doa yang secara terbuka mengagungkan personalitas Tuhan, para sruti yang terdekat ini tidak dapat lagi menahan diri, sehingga mereka berbicara secara bergantian dalam ayat ini.

Para pengikut jalan yoga mistik menundukkan indria dan pikiran mereka dengan cara mempraktikkan pengendalian napas dan menjalani pertapaan yang berat. Jika mereka berhasil memurnikan diri secara menyeluruh dengan cara tersebut, maka pada akhirnya mereka dapat mulai menginsafi Paramatma, wujud pribadi Brahman di dalam hati. Dan, jika mereka melanjutkan meditasi tersebut tanpa penyimpangan untuk waktu yang lama, pada akhirnya mereka akan bisa sampai pada titik kesadaran Tuhan yang sejati. Tetapi, tujuan yang sama yang dicapai dengan cara yang sulit dan tidak pasti tersebut juga dicapai oleh para asura yang dicabut nyawanya oleh Sri Krsna selama berlangsungnya lila-lila Krsna di bumi. Karena terobsesi oleh rasa permusuhan terhadap Krsna, iblis-iblis seperti Kamsa dan Sisupala dengan cepat meraih kesempurnaan pembebasan cukup dengan Krsna mencabut nyawa mereka.

Akan tetapi, berbicara dari sudut pandang mereka sendiri, kepribadian-kepribadian Veda di sini menyatakan bahwa mereka lebih memilih untuk mengembangkan cinta kasih kepada Tuhan dengan cara belajar mengikuti penyerahan diri secara positif yang diperlihatkan oleh para penyembah terdekat Krsna, khususnya para gopi muda Vraja. Meskipun para gopi terlihat sebagai wanita sederhana yang terpikat pada ketampanan dan kekuatan fisik Krsna, para dewi Vraja tersebut memperlihatkan kesempurnaan tertinggi meditasi. Para sruti ingin menjadi seperti mereka.

Terkait hal ini, Dewa Brahma menceritakan kisah sejarah berikut ini dalam bagian tambahan kitab Brhad-vamana Purana:

brahmānanda-mayo loko
vyāpī vaikuṇṭha-saṁjñitaḥ
tal-loka-vāsī tatra-sthaiḥ
stuto vedaiḥ parāt-paraḥ

“Dunia kebahagiaan spiritual yang tanpa batas disebut Vaikuntha. Di sanalah tinggal Sang Kebenaran Tertinggi, sambil dimuliakan oleh kepribadian-kepribadian Veda yang juga hadir di sana.”

ciraṁ stutvā tatas tuṣṭaḥ
parokṣaṁ prāha tān girā
tuṣṭo ’smi brūta bho prājñā
varaṁ yaṁ manasepsitam

“Suatu ketika, setelah kepribadian-kepribadian Veda memuji Dia dengan panjang lebar, Tuhan merasa sangat puas lalu berbicara kepada mereka dengan suara yang sumbernya tak tampak: ‘Wahai para resi, Aku sangat puas kepada kalian. Silakan meminta berkat yang diam-diam kalian inginkan.”

śrutaya ūcuḥ
yathā tal-loka-vāsinyaḥ
kāma-tattvena gopikāḥ
bhajanti ramaṇaṁ matvā
cikīrṣājani nas tathā

“Para sruti menjawab, ‘Keinginan untuk menjadi seperti para wanita gembala sapi di dunia fana, yang memuja Engkau dalam suasana hati sebagai kekasih dan didorong oleh hasrat cinta, telah berkembang di hati kami.”

śrī-bhagavān uvāca
durlabho durghaṭaś caiva
yuṣmākaṁ sa manorathaḥ
mayānumoditaḥ samyak
satyo bhavitum arhati

“Tuhan kemudian berkata, ‘Keinginan kalian sulit dipenuhi. Bahkan, hampir mustahil. Tetapi, karena Aku merestuinya, keinginan kalian pasti akan terwujud.”

āgāmini viriñcau tu
jāte sṛṣṭy-artham udite
kalpaṁ sāraśvataṁ prāpya
vraje gopyo bhaviṣyatha

“ ‘Ketika Brahma berikutnya terlahir untuk melaksanakan tugas penciptaannya dengan penuh keyakinan, dan ketika hari dalam hidupnya yang disebut Sarasvata-kalpa tiba, kalian semua akan muncul di Vraja sebagai para gopi.”

pṛthivyāṁ bhārate kṣetre
māthure mama maṇḍale
vṛndāvane bhaviṣyāmi
preyān vo rāsa-maṇḍale

“ ‘Di bumi, di tanah Bharata, di distrik-Ku sendiri, Mathura, di hutan Vrndavana, Aku akan menjadi kekasih kalian di dalam lingkaran tarian rasa.”

jāra-dharmeṇa su-snehaṁ
su-dṛḍhaṁ sarvato ’dhikam
mayi samprāpya sarve ’pi
kṛta-kṛtyā bhaviṣyatha

“ ‘Dengan mendapatkan Aku sebagai kekasih, kalian semua akan mencapai cinta murni yang paling agung dan teguh kepada-Ku, dan dengan cara demikian segala hasrat kalian akan terpenuhi.”

brahmovāca
śrutvaitac cintayantyas tā
rūpaṁ bhagavataś ciram
ukta-kālaṁ samāsādya
gopyo bhūtvā hariṁ gatāḥ

“Dewa Brahma berkata: Setelah mendengar kata-kata tersebut, para sruti memusatkan pikiran kepada ketampanan Personalitas Tuhan Yang Maha Esa selama waktu yang panjang. Ketika waktu yang telah ditentukan itu akhirnya tiba, mereka menjadi gopi lalu memperoleh pergaulan Krsna.”

Uraian serupa dapat ditemukan di dalam Srsti-khanda dari Padma Purana, yang menguraikan tentang bagaimana mantra Gayatri juga menjadi gopi.

Perihal berkembangnya bhakti, Sri Krsna menyatakan lebih lanjut di dalam Gopala-tapani Upanisad (Uttara 4), apūtaḥ pūto bhavati yaṁ māṁ smṛtvā, avratī vratī bhavati yaṁ māṁ smṛtvā, niṣkāmaḥ sa-kāmo bhavati yaṁ māṁ smṛtvā, aśrotrī śrotrī bhavati yaṁ māṁ smṛtvā: “Dengan mengingat Aku, orang yang tidak murni menjadi murni. Dengan mengingat Aku, orang yang tidak menjalani sumpah apa pun menjadi orang yang menjalani sumpah-sumpah dengan ketat. Dengan mengingat Aku, orang yang tanpa keinginan mengembangkan keinginan-keinginan [untuk melayani-Ku]. Dengan mengingat Aku, orang yang tidak mempelajari mantra-mantra Veda menjadi ahli pengetahuan Veda.”

Brhad-aranyaka Upanisad (4.5.6) menjelaskan tentang langkah-langkah bertahap dalam proses menjadi sadar akan Krsna: Ātmā vā are draṣṭavyaḥ śrotavyo mantavyo nididhyāsitavyaḥ. “Sang Diri lah yang harus diamati, didengarkan uraian-uraian tentangnya, dipikirkan, dan dijadikan objek meditasi dengan konsentrasi yang teguh.” Gagasannya adalah bahwa seseorang harus menginsafi Sang Diri Tertinggi yang secara langsung terlihat dalam personalitas-Nya yang utuh dengan cara berikut: Pertama, seseorang harus mendengar petuah-petuah dari perwakilan Paramatma yang bonafid dan menerima kata-kata dari sang guru spiritual tersebut dengan sepenuh hatinya, dengan cara mempersembahkan pelayanan dengan rendah hati dan berusaha dengan segala cara untuk menyenangkan hati beliau. Kemudian, ia harus merenungkan pesan rohani dari sang guru spiritual tersebut terus menerus, dengan tujuan untuk menyingkirkan segala keraguan dan kekeliruan pemahamannya. Kemudian, ia dapat melanjutkan untuk memusatkan pikiran kepada kaki-padma Tuhan Yang Maha Esa dengan penuh keyakinan dan tekad.

Mereka yang disebut-sebut sebagai para jnani mungkin menganggap bahwa kitab-kitab Upanisad memuji keinsafan nirvisesa (impersonal) tentang Yang Mahakuasa sebagai keinsafan yang lebih lengkap dan final jika dibandingkan dengan pemujaan sa-visesa (personal) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, semua Vaisnava yang jujur, yang bersepakat untuk melaksanakan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, selalu memusatkan pikiran dengan penuh sukacita kepada sifat-sifat rohani-Nya yang maha-indah, beraneka ragam, dan tanpa batas. Menurut kata-kata sruti-mantra, yam evaiṣa vṛṇute tena labhyas/ tasyaiṣa ātmā vivṛṇute tanūṁ svām: “Roh Yang Utama bisa dicapai oleh insan yang dipilih oleh-Nya. Kepada orang tersebut, Roh Yang Utama mengungkap wujud pribadi-Nya.” (Katha Upanisad 1.2.23 dan Mundaka Upanisad 3.2.3)

Srila Sridhara Svami menyimpulkan dengan doa,

caraṇa-smaraṇaṁ premṇā
tava deva su-durlabham
yathā kathañcid nṛ-hare
mama bhūyād ahar-niśam

“Oh Tuhan, ingatan penuh cinta kasih kepada kaki padma-Mu sangatlah jarang dicapai. Mohon, Oh Nrhari, entah bagaimana caranya, buatlah agar ingatan itu hamba miliki siang dan malam.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vasthu ( Vastushastra) adalah Sumber Feng Sui

Niti-Sastra ungkapan dari Canakya dan Hitopadesa Satsvarupa dasa Goswami dikutip oleh Srila Prabhupada

Bhagavatam Itu isinya tentang apa?