Dewa Siwa Menolak Pujian Sri Narada_Sri Brhad Bhagavatamrta
Dewa Siwa Menolak Pujian Sri Narada
Sri brhad bhagavatamrta vol. 1
tato maheçvaro mätas
trapävanamitänanaù
näradaà bhagavad-bhaktam
avadad vaiñëavägraëéù
çré-parékñit uväca-Çré Parékñit berkata; tataù-kemudian; mahä-éçvaraù-Dewa Çiva; mätaù-ibu; trapä-karena malu; avanamita-menunduk; änanaù-wajah siapa; näradam-kepada Närada; bhagavatbhaktam-penyembah Tuhan; avadat-ia berkata; vaiñëava-agranéù-pemimpin para Vaiñëava.
çré parékñit berkata: Ibu yang terhormat, Dewa Çiva sangat malu mendengar hal ini sehingga ia menundukkan wajahnya. Kemudian pemimpin para Vaiñëava itu menjawab penyembah agung Närada. Reaksi pertama Dewa Çiva adalah merasa malu mendengar dirinya dipuji. Kemudian ia mulai berpikir bahwa karena pujian itu sama sekali tidak benar, Närada mungkin sedang mengolok-oloknya.
çré-maheça uväca
aho bata mahat kañöaà
tyakta-sarväbhimäna he
kvähaà sarväbhimänänäà
mülaà kva tädåçeçvaraù
çré-maheçaù uväca-Çré Maheça berkata; aho bata-oh; mahat kañöam-sangat menyakitkan; tyakta-yang bebas; sarva-dari semua; abimäna-kesombongan yang salah; dia-engkau; kva-di mana; aham-aku; sarva-dari semua; abimänänäm-kesombongan yang salah; mülam-akarnya; kva-di mana; tädåça-ini; éçvaraù-Tuhan.
çré maheça berkata: Oh, betapa menyakitkannya hal ini! Närada yang terkasih, yang bebas dari setiap jejak kesombongan palsu, bagaimana mungkin anda membandingkan saya, akar dari segala kesombongan, dengan Kåñëa, Tuhan para resi yang tak ternilai harganya?
Dewa Çiva memimpin kekuatan material ahaìkära, yang dengannya setiap orang dari penguasa planet-planet bawah menganggap dirinya sangat penting. Maka Dewa Çiva memiliki alasan untuk menyalahkan dirinya sendiri atas ego palsu yang menyelimuti alam semesta material. Närada, sebaliknya, bebas dari pengaruh ahaìkära dan karenanya tidak seharusnya mengidolakan Dewa Çiva. Di ujung yang berlawanan dengan Dewa Çiva dalam spektrum egoisme, Sri Kåñëa adalah sumber kesombongan yang murni. Dewa Çiva menyiratkan dengan perbandingan ini bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara dirinya dengan Sri Kåñëa, yang sangat berlawanan sifatnya.
lokeço jïäna-do jïäné
mukto mukti-prado ’py aham
bhakto bhakti-prado viñëor
ity-ädy-ahaì-kriyävåtaù
loka-éçaù-penguasa alam semesta; jïäna-daù-pemberi pengetahuan; jïäné-pengenal segala sesuatu; muktaù-terbebaskan; mukti-pradaù-pemberi pembebasan; api-dan; aham-aku; bhaktaù-penyembah; bhakti-pradaù-pemberi bhakti; viñëoù-kepada Viñëu; iti-dengan demikian; ädi-dan seterusnya; aham-kriyä-oleh ego material; ävåtaù-tertutup.
Saya diliputi oleh banyak identitas palsu. Saya menganggap diri saya sebagai penguasa alam semesta, pemberi pengetahuan yang maha tahu, pemberi pembebasan yang terbebaskan, pemberi pengabdian yang setia kepada Viñëu. Orang mungkin berpikir bahwa pengendali universal ego palsu seharusnya kebal terhadap pengaruhnya. Dewa Çiva sekarang menyangkal hal ini, menggambarkan dirinya sebagai tunduk pada ahaìkära. Dia mengatakan bahwa dia juga menganggap dirinya sebagai penyembah Viñëu yang terkasih dan penerima cinta kasih khusus dari Viñëu; dan mentalitas seperti itu, menurutnya, hanyalah pengaruh lain dari ego palsu.
sarva-gräsa-kare ghore
mahä-käle samägate
villaje ’çeña-saàhäratämasa-sva-prayojanät
sarva-gräsa-kare-semua-memakan; ghore-takut; mahä-käle-ketika waktu pemusnahan; samägate-datang; villaje-saya malu; açeña-dari
semua; saàhära-kehancuran; tämasa-berdasarkan cara ketidaktahuan; sva-saya; prayojanät-tentang tanggung jawab.
Ketika saat pemusnahan yang menakutkan itu tiba, di mana segala sesuatu harus dilahap habis, saya diwajibkan oleh sifat ketidaktahuan untuk menghancurkan seluruh alam semesta. Ketika saya memikirkan hal ini, saya merasa malu.
mayi närada varteta
kåpä-leço ’pi ced dhareù
tadä kià pärijätoñä-
haraëädau mayä raëaù
mayi-terhadap saya; närada-O Närada; varteta-ada; kåpä-cinta kasih; leçaù-setetes; api-bahkan; cet-jika; hareù-Pemimpin Hari; tadä-kemudian; kim-kenapa; pärijäta-bunga pärijäta; üñä-dan Üñä, putri Bäëa; haraëa-diambil; ädau-dan sebagainya; mayä-bersama saya; raëaù-pertempuran.
Närada yang terhormat, jika saya memiliki setetes saja cinta kasih dari Sri Hari, mengapa Dia melawan saya ketika Dia mengambil bunga pärijäta, ketika Aniruddha mencuri Üñä, dan pada kejadian-kejadian lain yang serupa?
mäà kim ärädhayed däsaà
kim etac cädiçet prabhuù
svägamaiù kalpitais tvaà ca
janän mad-vimukhän kuru
mäm-aku; kim-mengapa; ärädhayet-akan menyembahNya; däsam-hambaNya; kim-mengapa; etat-ini; ca-dan; ädiçet-akan memerintahkan; prabhuù-Tuhan; sva-kamu; ägamaiù-dengan kitab suci; kalpitaiù-diramu; tvam-kamu; ca-dan; janän-rakyat umum; matvimukhän-tak peduli padaKu; kuru-buatlah.
Mengapa Dia menyembah saya, hambaNya, dan mengapa Dia memerintahkan saya, "Jauhkanlah orang-orang dari-Ku dengan mengarang kitab suci versi Anda sendiri"?
Di sini, Dewa Çiva mencoba untuk membuktikan bukan hanya bahwa Çré Kåñëa tidak peduli kepadanya, tetapi juga bahwa Tuhan benar-benar menghinanya. Jika tidak, Dewa Çiva berpendapat, Kåñëa tidak akan menentangnya dalam pertempuran dalam beberapa kesempatan, seperti ketika Kåñëa mencuri bunga pärijäta milik Indra dan ketika Aniruddha mencuri Üñä, putri Bäëäsura.
Lebih jauh lagi, ketika seorang majikan berpura-pura menyembah seorang pelayan, pelayan tersebut sebenarnya dihina dan diejek di depan umum. Kepura-puraan tersebut bahkan dapat mengindikasikan bahwa sang majikan secara diam-diam menyimpan dendam kepada pelayan tersebut dan ingin mempermalukannya. Hal ini mungkin terjadi pada kasus seperti ketika Kåñëa menyembah Çiva untuk mendapatkan seorang putra yang unggul.
Dewa Çiva kemudian menyimpulkan bahwa Kåñëa yang meminta berkah darinya tidak menunjukkan kebaikan Kåñëa, melainkan penghinaan Kåñëa.
Daripada mengabaikan pelanggaran Dewa Çiva, Kåñëa menghukumnya dengan cara yang halus. Dewa Çiva seharusnya menjadi penyembah Kåñëa yang hebat karena ia mengajarkan pelayanan bhakti yang murni, namun Kåñëa memerintahkannya untuk mengajarkan ateisme Mäyäväda. Tentu saja, Dewa Çiva sebenarnya adalah seorang penyembah murni dan penerima karunia dari Sri Kåñëa; bahkan ajaran ateisme yang diajarkannya dilakukan demi melindungi kondisionalitas bhakti. Tetapi seorang penyembah murni, yang secara alamiah tidak puas dengan dirinya sendiri, mungkin sering mengklaim tidak memiliki status spiritual.
Dua baris terakhir dari sloka ini adalah kutipan dari Båhatsahasra-näma dari Padma Puräëa (Uttara 71.107).
ävayor mukti-dätåtvaà
yad bhavän stauti håñöa-vat
tac cäti-däruëaà tasya
bhaktänäà çruti-duùkha-dam
ävayoù-dari kami berdua (Çiva dan Parvaté); mukti-dätåtvam-kekuatan untuk menganugerahkan pembebasan; yat-yang; bhavän-Anda; stauti-memuji; håñöavat-senang hati; tat-itu; ca-juga; ati-däruëam-sangat tidak menyenangkan; tasya-NYA; bhaktänäm-para bhakta; çruti-dengan didengar; duùkhadam-menyebabkan ketidakbahagiaan.
Engkau dengan penuh sukacita memuji kuasa saya dan istri saya untuk memberikan pembebasan. Tetapi kami menganggap kekuatan ini sangat mengerikan, karena para penyembah Tuhan merasa tertekan mendengarnya. Para Vaiñëava tidak suka mendengar bahwa ada orang lain selain Sri Viñëu yang bisa memberikan pembebasan.
Komentar
Posting Komentar