Prahläda mengarahkan Närada kepada Hanumän_brhad bhagavatamrta
Prahläda mengarahkan Närada kepada Hanumän
hanümäàs tu mahä-bhägyas
tat-sevä-sukham anvabhüt
su-bahüni sahasräëi
vatsaräëäm avighnakam
hanümän-hanumän; tu-namun; mahä-bhägyaù-sangat beruntung; tat-sevä-melayaniNya; sukham-kebahagiaan; anvabhüt-berpengalaman; su-bahüni-sangat banyak; sahasräëi-selama beribu-ribu; vatsaräëäm-selama beribu-ribu; avighnakam-tanpa halangan.
Tetapi Hanumän jauh lebih beruntung. selama ribuan tahun ia telah menikmati pelayanan kepada Tuhan secara terus menerus, tanpa halangan. menurut çré rämäyaëa, Hanumän tinggal bersama dengan Sri Rama di bumi ini selama lebih dari sebelas ribu tahun. namun, çrémad-bhägavatam mengatakan bahwa ia melayani Tuhannya secara langsung selama lebih dari tiga belas ribu tahun. di dalam sloka ke-9 (9.11.18, 36), bhagavatam menyatakan:
ata ürdhvaà brahma-caryaà
dhärayann ajuhot prabhuù
trayodaçäbda-sähasram
agnihotram akhaëòitam
“Setelah Ibu Sétä memasuki bumi, Sri Rämacandra menjalankan kehidupan selibat sepenuhnya dan melakukan Agnihotra-yajïa tanpa henti selama tiga belas ribu tahun.”
bubhuje ca yathä-kälaà
kämam anyän apéòayan
varña-pügän bahün nèëäm
abhidhyätäìghri-pallavaù
“Tanpa melanggar prinsip-prinsip agama, Sri Rämacandra, yang kaki padmaNya dipuja oleh para penyembahNya dalam meditasi, menikmati semua perlengkapan kenikmatan transendental selama yang dibutuhkan." Hanumän tetap bersama dengan Sri Rämacandra selama ini.
yo baliñöha-tamo bälye
deva-vånda-prasädataù
sampräpta-sad-vara-vräto
jarä-maraëa-varjitaù
yaù-siapa; baliñöha-tamaù-paling kuat; bälye-di masa kanak-kanak; devavånda-dari semua dewa; prasädataù-dengan bantuan; sampräpta-diperoleh; sat-vara-dari berkah; vrätaù-sebuah rangkaian; jarä-dari usia tua.; maraëa-dan kematian; varjitaù-bebas.
Beliau adalah orang yang paling berkuasa. Ketika ia masih kecil, para dewa memberinya beberapa berkah yang luar biasa. Dengan demikian ia menjadi kebal terhadap usia tua dan kematian. Kekuatan Hanumän yang unik dan kualitas-kualitasnya yang lain yang disebutkan dalam syair ini dan syair berikutnya meningkatkan pelayanannya yang tanpa hambatan kepada Sri Rama. Bagaimana ia menerima berkah dari para dewa dijelaskan dalam Çré Rämäyaëa (Uttara-käëòa 35-36). Segera setelah Hanumän lahir, ia melihat matahari terbit di atas kepalanya dan mengira bahwa itu adalah buah matang yang tergantung di pohon. Dia melompat untuk menangkapnya, dan akan melakukannya jika Indra tidak turun tangan untuk melindungi matahari dengan melemparkan senjata petir, mengenai rahang Hanumän dan membuatnya pingsan ke bumi. Ayah Hanumän, Väyu, yang sangat marah, memutuskan untuk menahan kekuatan nafas di seluruh alam semesta, dan seluruh penghuni alam semesta mulai mati lemas. Untuk menyelamatkan penduduk alam semesta, Brahmä dan para dewa utama lainnya mendatangi Hanumän, menghidupkannya kembali, dan memberinya berbagai berkah.
açeña-träsa-rahito
mahä-vrata-dharaù kåté
mahä-véro raghu-pater
asädhäraëa-sevakaù
açeña-dari semua; träsa-takut; rahitaù-bebas dari rasa takut; mahä-vrata-sumpah-sumpah agung; dharaù-pemelihara; kåté-pelaku perbuatan-perbuatan agung; mahä-véraù-pahlawan agung; raghu-pateù-pemimpin para raghu; asädhäraëa-luar biasa; sevakaù-seorang pelayan.
ia bebas dari segala rasa takut, ia memelihara sumpah-sumpah agung, dan ia melakukan perbuatan-perbuatan yang menguntungkan. luar biasa di antara para pahlawan, ia adalah seorang hamba yang luar biasa dari penguasa para raghu.
Di antara sumpah-sumpah hanumän, yang terbesar adalah selibatnya yang ketat. perbuatan-perbuatannya yang menguntungkan termasuk mempelajari secara menyeluruh semua literatur Veda dan memperoleh keahlian sebagai penyair. kepahlawanannya dibuktikan dengan eksploitasi yang dilakukannya dalam peperangan. ia adalah seorang pahlawan dalam segala hal, seperti yang digambarkan oleh bharata muni, seorang ahli sajak:
däna-véraà dharma-véraà
yuddha-véraà tathaiva ca
rasaà véram api präha
brahmä tri-vidham eva hi
"Dewa Brahmä telah mendefinisikan tiga jenis véra, atau pahlawan: pahlawan dalam amal, pahlawan dalam agama, dan pahlawan dalam pertempuran. Ada juga suasana hati untuk membalas budi secara pribadi yang disebut véra, atau kepahlawanan.”
helä-vilaìghitägädha-
çata-yojana-sägaraù
rakño-räja-pura-sthärtasétäçväsana-kovidaù
helä-dengan tidak hormat; vilaìghita-yang melompat; agädha-tak terduga; çata-yojana-ratusan yojana yang luasnya tak terhingga; sägaraù-samudra; rakñaù-dari para Räkñana; räja-pura-di ibukota; stha-terletak; ärta-tertekan; sétä-Ibu Sétä; äçväsana-menghibur; kovidaù-ahli.
Dengan penuh keceriaan, ia melompati ribuan mil lautan yang tak terduga. Dengan ahli, di ibukota raja Räkñasa, ia menghibur Ibu Sétä yang sedang mengalami kesusahan.
vairi-santarjako laìkä-
dähako durga-bhaïjakaù
sétä-värtä-haraù svämigäòhäliìgana-gocaraù
vairi-dari para musuh; santarjakaù-pengancam; laìkä-dari kota Laìkä; dähakaù-pembakar; durga-dari benteng; bhaïjakaù-penghancur; sétä-värtä-berita tentang Sétä; haraù-yang mengembalikan; svämi-dari gurunya; gäòha-dalam; äliìgana-pelukan; gocaraù-yang mengalami.
Ia dengan berani mengancam musuh-musuhnya, membakar Laìkä, dan menghancurkan bentengnya. Ketika ia membawa kembali berita tentang Sétä, ia menerima pelukan mendalam dari tuannya. Hanumän dengan berani menantang Rävaëa dan Räkñasas lainnya dengan
membunuh semua orang yang dikirim Rävaëa untuk menghentikannya menghancurkan açokagrove - pertama delapan puluh ribu tentara Räkñasa, kemudian raksasa besar Jambumälé, kemudian tujuh putra menteri Rävaëa, lima komandan tentara Rävaëa, dan putra Rävaëa sendiri, Akñaya-kumära. Ketika Hanumän menyampaikan kepada Sri Rämacandra berita bahwa Sétä selamat, Tuhan sangat senang dengannya. Dalam teks 43 dan 44, Prahläda telah mendaftarkan pencapaian Hanumän dalam urutan yang semakin penting; setiap perbuatan tambahan merupakan alasan yang lebih penting bagi Sri Rämacandra untuk menerima Hanumän sebagai rekan pribadinya.
sva-prabhor vähaka-çreñöhaù
çveta-cchatrika-pucchakaù
sukhäsana-mahä-påñöhaù
setu-bandha-kriyägraëéù
sva-prabhoù-dari Tuhannya; vähaka-pembawa; çreñöhaù-terbaik; çveta-putih; chatrika-berfungsi sebagai payung; pucchakaù-ekornya; sukha-nyaman; äsana-sebuah tempat duduk; mahä-besar; påñöhaù-punggungnya;
setu-bandha-pembangunan jembatan; kriyä-pekerjaan; agra-néù-pemimpin.
Hanumän-lah yang bertindak sebagai pembawa terbaik bagi Tuhannya, ekornya berfungsi sebagai payung putih kerajaan, punggungnya yang lebar menjadi tempat duduk yang nyaman bagi Tuhan. Dan Hanumän-lah yang mengarahkan proyek untuk menjembatani lautan.
Hanumän adalah yang terbaik dari semua pembawa Tuhan, termasuk Garuòa. Ketika gurunya perlu melakukan perjalanan dari Kiñkindha ke pantai selatan samudra, Hanumän menggendongnya sepanjang jalan di punggungnya yang lebar dan indah.
Di jaman modern ini, orang-orang bebas membawa payung dengan warna apapun yang mereka sukai, tetapi secara tradisional hanya raja-raja yang diperbolehkan menggunakan payung putih. Untuk melengkapi Raja Rämacandra dengan simbol kebangsawanan ini ketika berada di hutan, di mana payung buatan pabrik tidak tersedia, Hanumän menyediakan ekor putihnya sendiri. Hanumän mengambil peran utama dalam membangun jembatan ke Laìkä, dan ia menginspirasi para pekerja monyet dengan melemparkan batu-batu besar ke tempatnya.
vibhéñaëärtha-sampädé
rakño-bala-vinäça-kåt
viçalya-karaëé-nämau-
ñaudhy-änayana-çaktimän
vibhéñaëa-dari Vibhéñaëa; artha-dari tujuan; sampädé-pengisi; rakñaù-dari Räkñasas; bala-kekuatan militer; vinäça-kåt-pemusnah;viçalya-karaëé-näma-bernama viçalya-karaëé; auñaudhi-ramuan; änayana-untuk membawa; çakti-män-memiliki kekuatan.
Dia memenuhi keinginan Vibhéñaëa. Dia menghancurkan kekuatan militer Räkñasas. Dan dia memiliki kekuatan khusus untuk memberikan ramuan penyembuh yang disebut viçalya-karaëé.
Vibhéñaëa, meskipun saudara laki-laki Rävaëa, selalu ingin menjadi pelayan Sri Rämacandra. Sejak awal, Hanumän mendukung tujuan Vibhéñaëa dengan menceritakan kepada Sri tentang perilaku sucinya. Dan ketika Vibhéñaëa membelot dan menyeberangi samudera, Hanumän mengatur agar dia bertemu dengan Tuhan.
Tindakan Hanumän yang disebutkan sampai saat ini sesuai dengan yang diceritakan dalam Çré Rämäyaëa dalam Kiñkindhä-käëòa dan Sundara-käëòa.
Dari sini, dimulai dengan frase rakño-bala-vinäça-kåt ("penghancur kekuatan militer Räkñasa") sampai frase dalam Teks 49 sétä-pramodanaù ("pemberi semangat kepada Sétä"), pencapaian Hanumän dalam Yuddha-käëòa dijelaskan secara singkat. Çréla Sanätana
Gosvämé berasumsi bahwa para pembacanya telah akrab dengan Rämäyaëa karya Välméki dan oleh karena itu meninggalkan rincian lebih lanjut dari kisah-kisah ini, untuk menghindari penambahan ukuran bukunya yang tidak perlu. Selama pertempuran antara pasukan Sri Rämacandra dan pasukan Rävaëa, putra Rävaëa, Indrajit, menyerang di tengah malam, menggunakan sihir, dan membuat semua tentara monyet tidak sadarkan diri. Pada saat itu Çré Lakñmaëa juga memainkan permainan menjadi tidak sadarkan diri untuk memenuhi ramalan dari Brahmana. Atas saran dari tabib Suñeëa, Hanumän berangkat untuk menemukan ramuan viçalya-karaëé, yang hanya dapat menyelamatkan nyawa Lakñmaëa dan para prajurit vänara.
Ia berhasil membawa ramuan tersebut dari Gunung Gandhamädana tidak hanya sekali tetapi dua kali. Dalam perjalanannya, ia harus mengalahkan pasukan Gandharva, mencabut seluruh gunung karena ia tidak dapat membedakan tanaman mana yang benar, dan dengan cepat kembali sebelum terlambat.
sva-sainya-präëa-daù çrématsänuja-prabhu-harñakaù
gato vähanatäà bhartur bhaktyä çré-lakñmaëasya ca
sva-sainya-para prajuritnya sendiri; präëa-daù-pemberi kehidupan; çrémat-ilahi; sa-anu-ja-bersama dengan adik-Nya; prabhu-kepada Tuhan; harñakaù-pemberi kegembiraan; gataù-yang mengemban tugas; vähanatäm-peran sebagai pembawa; bhartuù-untuk tuannya; bhaktyä-dengan bhakti; çré-lakñmaëasya-untuk Çré Lakñmaëa; ca-dan.
Ia adalah kehidupan bagi para prajuritnya. Selalu memberikan kesenangan yang besar kepada Tuhannya yang ilahi dan adik laki-laki Tuhan, Lakñmaëa, ia dengan setia melayani sebagai pembawa mereka berdua.
jaya-sampädakas tasya
mahä-buddhi-paräkramaù
sat-kérti-vardhano rakñoräja-hantur nija-prabhoù
jaya-kemenangan; sampädakaù-penghasil; tasya-Nya; mahä-buddhi-sangat cerdas; paräkramaù-dan gagah berani; sat-tanpa noda; kérti-dari kemasyhuran; vardhanaù-penambah; rakñaù-räja-raja Räkñasas; hantuù-pembunuh; nija-prabhoù-Tuhannya sendiri.
Sangat cerdas dan gagah berani, ia membawa kemenangan bagi Sri Rämacandra. Dia menambah ketenaran tanpa cela dari Tuannya, yang telah membunuh raja Räkñana.
Hanumän menunjukkan kecerdasannya dalam memberikan nasihat strategis, dan kehebatannya dalam menentang musuh di medan perang, terutama selama konfrontasi dengan Indrajit dan Rävaëa. Selama pertempuran-pertempuran tersebut, Rämacandra dan Lakñmaëa menunggang di punggungnya. Hanumän meningkatkan ketenaran Raja Rämacandra dengan berbagai cara-dengan melompati lautan, membantu mengatur panggung untuk membunuh Rävaëa, dan sebagainya.
sétä-pramodanaù svämisat-prasädaika-bhäjanam
äjïayätmeçvarasyätra
sthito ’pi virahäsahaù
sétä-pramodanaù-pemberi semangat kepada Sétä; svämi-Tuhannya; sat-benar; prasäda-karunia; eka-satu-satunya; bhäjanam-penerima; äjïayä-atas perintah; ätma-éçvarasya-Penguasa kehidupannya; atra-di sini; sthitaù-tetap; api-bahkan; viraha-pemisahan; asahaù-tidak mudah bertenggang rasa.
Hanumänlah yang mendorong Ibu Sétä. Dan atas perintah Tuhan, Hanumän ini, satu-satunya penerima sejati bantuan tuannya, masih hidup di dunia ini, meskipun tidak dapat menanggung perpisahan dengan Tuhan.
Setelah Sri Rämacandra membunuh Rävaëa dalam pertempuran, Hanumän membawa berita ini kepada Ibu Sétä di taman açoka. Hal ini membuat Sétä hidup kembali, dan hidupnya menjadi penuh dengan kebahagiaan ketika Hanumän membawanya untuk bertemu dengan suaminya. Demikianlah Hanumän memberikan Berbagai macam pelayanan penyambutan kepada Sri Rama dan para penyembah-Nya yang terkasih. Setelah menjelaskan hal ini,
Prahläda selanjutnya menyebutkan pahala yang dinikmati oleh Hanumän atas pelayanannya. Ketika Sri Rämacandra diurapi sebagai Raja Ayodhyä, Beliau secara khusus memberikan penghargaan kepada Hanumän dengan menghadiahkan kalung emas Ibu Sétä. Lebih dari itu, Beliau menganugerahi Hanumän dengan pengabdian yang murni dan tak tergoyahkan kepada-Nya.
Karena kehidupan Hanumän dengan Sri Rämacandra setelah kemenangan itu sangat beruntung, orang mungkin bertanya bagaimana Hanumän bisa meninggalkan pergaulan dengan Tuhan. Mengapa ia tidak kembali bersama Sri Räma ke Ayodhyä yang kekal di Vaikuëöha bersama dengan penghuni kerajaan lainnya?
Jawabannya adalah bahwa Tuhannya secara khusus memintanya untuk tetap tinggal di bumi. Ätmeçvara berarti "Tuhannya sendiri", dan juga berarti "Tuhan dari semua ätmäs". Dengan kata lain, dengan tetap tinggal di dunia ini, Hanumän memberikan kesempatan yang jauh lebih baik kepada seluruh penghuninya untuk menempuh jalan bhakti yang murni. Sri Rämacandra memerintahkan Hanumän untuk melakukan pengorbanan yang berat ini karena Tuhan ingin melimpahkan belas kasih kepada jiwa-jiwa yang terkondisi. Hidup dalam keterpisahan dari Tuhan adalah pelayanan Hanumän yang paling sulit dan mulia.
ätmänaà nitya-tat-kérti-
çravaëenopadhärayan
tan-mürti-pärçvatas tiñöhan
räjate ’dyäpi pürva-vat
ätmänam-dirinya sendiri; nitya-secara terus-menerus; tat- nya; kérti- kemuliaan; çravaëena-dengan mendengar; upadhärayan-menjaga agar tetap hidup; tat- nya; mürti-dari dewa; pärçvataù-di sisi; tiñöhan-berdiri; räjate- dia hadir dengan kemegahan; adya api- bahkan sampai hari ini; pürva-vat-seperti sebelumnya.
Ia menjaga dirinya tetap hidup dengan terus menerus mendengar kemuliaan Sri Rama. Dengan tetap berada di sisi Sri Rama, ia hadir bahkan sampai hari ini dengan kemegahan yang sama seperti biasanya.
Rasa sakit karena perpisahan dengan Sri Rama tidak akan tertahankan bagi Hanumän, tetapi ia tetap bertahan hidup dengan tetap selalu terserap dalam ekstase çravaëaà kértanam. para penyanyi ahli di antara para kimpuruñas seperti ärñöiñeëa mendukung Hanumän dengan memberikan lantunan manis dari kemuliaan Sri Rama untuk didengarnya. Hanumän tinggal di kimpuruñaloka, dekat dengan Sri Rama yang dipasang secara permanen. Ia secara teratur memuja Tuhan tersebut dengan berbagai cara, memberikan pelayanan pribadi yang sama seperti yang biasa ia lakukan saat bersama dengan junjungannya. hal ini dijelaskan dalam çrémad-bhägavatam (5.19.1-2):
kimpuruñe varñe bhagavantam ädi-puruñaà lakñmaëägrajaà sétäbhirämaà rämaà tac-caraëa-sannikarñäbhirataù parama-bhägavato hanumän saha kimpuruñair avirata-bhaktir upäste. ärñöiñeëena saha gandharvair anugéyamänäà parama-kalyäëéà bhartå-bhagavat-kathäà samupaçåëoti
svayaà cedaà gäyati.
Baginda, di Kimpuruña-varña, penyembah agung Hanumän selalu terlibat dengan para penduduk di negeri itu dalam pelayanan bhakti kepada Sri Rämacandra, kakak dari Lakñmaëa dan suami tercinta Sétädevé. Sejumlah Gandharva selalu terlibat dalam menyanyikan kemuliaan Sri Rama. Penyebutan tersebut selalu sangat menguntungkan.
Hanumänjé dan Ärñöiñeëa, orang yang paling utama di Kimpuruña-varña, selalu mendengar kemuliaan tersebut dengan penuh perhatian. Hanumän mengucapkan berbagai macam mantra.”
svämin kapi-patir däsye
ity-ädi-vacanaiù khalu
prasiddho mahimä tasya
däsyam eva prabhoù kåpä
svämin-guru rohani terkasih; kapi-patiù-kepala kera; däsye-dalam penghambaan; iti-demikian; ädi-dan seterusnya; vacanaiù-dengan pernyataan; khalu-sungguh; prasiddhaù-terkenal baik; mahimä-kehebatan; tasya- nya; däsyam-pengabdian; eva-memang benar; prabhoù-dari Tuhan; kåpä-kasih sayang.
guru spiritualku yang terkasih, kehebatan hanumän telah dikenal luas dari pernyataan-pernyataan kitab suci seperti "pimpinan kera menjadi sempurna dengan bertindak sebagai hamba Tuhan." pengabdiannya adalah bukti dari belas kasih Tuhan. prahläda mengutip frasa kapi-patir däsye dari sebuah syair yang terkenal:
çäraìgi-çravaëe parékñid abhavad vaiyäsakiù kértane
prahlädaù smaraëe tad-aìghri-bhajane lakñméù påthuù püjane akrüras tv abhivandane kapi-patir däsye ’tha sakhye ’rjunaù sarva-svätma-nivedane balir abhüd bhaktaù kathaà varëyate
“Parékñit menjadi sempurna hanya dengan mendengar, putra Vyäsa dengan chanting, Prahläda dengan mengingat, dan Lakñmé dengan melayani kaki Tuhan. Påthu menjadi sempurna dengan memuja Tuhan, Akrüra dengan memanjatkan doa, dan pemimpin para kera dengan bertindak sebagai seorang pelayan. Arjuna mencapai kesempurnaan melalui persahabatan, dan Bali dengan menyerahkan semua yang dimilikinya. Jadi, bagaimana mungkin ada satu deskripsi untuk menggambarkan apa artinya menjadi seorang penyembah Tuhan?" Menurut pendapat Çréla Sanätana Gosvämé, penafsiran Çrédhara Svämé kata däsyam sebagai "mempersembahkan kepada Tuhan hasil kerja seseorang" hanya menggambarkan sebagian dari hubungan Hanumän dengan Sri Rama. Çréla Sanätana Gosvämé mengatakan bahwa däsyam, lebih tepatnya, harus dipahami sebagai hubungan abadi dari pelayanan penuh cinta kasih, sebuah variasi rasa transendental yang agung. Däsya adalah pelayanan yang lengkap; ini melibatkan semua indera bahkan pada tingkat fisik. Seperti halnya semua indera tubuh fisik dimurnikan dengan mandi, mereka semua secara alami terlibat oleh penyerapan seorang penyembah dalam däsya-rasa. Oleh karena itu, hubungan penghambaan seperti Hanumän dapat dikatakan lebih unggul daripada sekedar mengingat Tuhan.
Prahläda menganggap pelayanan smaraëa-nya sendiri lebih rendah karena itu hanya merupakan aktivitas batin dari pikiran.
yadåcchayä labdham api
viñëor däçärathes tu yaù
naicchan mokñaà vinä däsyaà
tasmai hanümate namaù
yadåcchayä-tanpa usaha; labdham-diperoleh; api-walaupun; viñëoù-dari Sri Viñëu; däçäratheù-putra Daçaratha (Rämacandra); tu-tetapi; yaù-siapa; na icchan-tidak mau; mokñam-kebebasan; vinä-tanpa; däsyam-pelayanan; tasmai-kepadanya; hanümate-Hanumän; namaù-saya menghaturkan sembah.
"Walaupun Hanumän memperoleh anugerah pembebasan dari putra Daçaratha tanpa berjuang untuk itu, ia tidak pernah mau menerima pembebasan tanpa kesempatan untuk melayani. Kepada Hanumän itulah saya mempersembahkan sembah sujud saya."
Ini adalah syair lain yang dikutip Prahläda dari kitab suci, dari Çré Näräyaëa-vyüha-stava, sebagai bukti kebesaran Hanumän. Pembebasan telah tersedia bagi Hanumän bahkan tanpa ia berusaha untuk itu, tetapi ia tetap tidak mau menerimanya. Ia hanya menginginkan pelayanan kepada Sri Rama, tidak ada yang lain. Ia berpikir, "Bahkan jika siklus kelahiran dan kematian terputus bagi saya, saya harus tetap melayani Tuhanku!”
mad-anuktaà ca mähätmyaà
tasya vetti paraà bhavän
gatvä kimpuruñe varñe
dåñövä taà modam äpnuhi
mat-oleh saya; anuktam-tidak terucapkan; ca-dan; mähätmyam-kemuliaan; tasya-kemuliaan; vetti-nya; vetti-Anda tahu; param-lainnya; bhavän-Anda; gatvä-pergi; kimpuruñe varñe-kepada Kimpuruña-varña; dåñövä-melihat; tam-ya; modam-bersukacitalah; äpnuhi-silakanlah memperoleh.
Anda tentu tahu kemuliaan-kemuliaan yang belum saya sebutkan. Mengapa tidak pergi ke Kimpuruña-varña, melihatnya sendiri, dan bergembiralah? Prahläda tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar kepada Närada mengenai pengabdian eksklusif Hanumän kepada kaki padma Çré Raghunätha, karena Närada telah mengetahui pengabdian Hanumän dengan baik. Untuk apresiasi yang lengkap terhadap Hanumän, Närada sekarang harus bertemu langsung dengannya.
Komentar
Posting Komentar