Dewa Siva Selamat dari Ancaman Vrkisura _srimad-bhagavatam

Dewa Siva Selamat dari Ancaman Vrkisura 

Skanda 10 jilid 12 bab 80  ini menjelaskan tentang mengapa para penyembah Visnu memperoleh pembebasan, sementara para penyembah dewa-dewa lain memperoleh kemewahan material. 

Sri Visnu memiliki segala kemewahan, sementara Dewa Siva hidup dalam kemiskinan. Namun, para penyembah Visnu pada umumnya dilanda kemiskinan, sementara para penyembah Siva memperoleh kekayaan yang berlimpah. Ketika Maharaja Pariksit meminta Sukadeva Gosvami untuk menjelaskan fakta yang membingungkan ini, sang resi menjawab sebagai berikut: “Dewa Siva terwujud sebagai ego palsu dalam tiga jenis, sesuai dengan tiga sifat alam. Dari ego palsu ini muncul lima unsur fisik dan transformasi alam material lainnya, yang berjumlah enam belas. Ketika seorang penyembah Dewa Siva memuja manifestasi Siva dalam salah satu unsur tersebut, maka penyembah tersebut memperoleh segala jenis kenikmatan yang sesuai dengan unsur tersebut. Tetapi, karena Sri Hari melampaui sifat-sifat alam material, maka para penyembah-Nya juga melampaui sifat-sifat tersebut.” 

Pada akhir pelaksanaan korban suci Asvamedha, Raja Yudhisthira telah mengajukan pertanyaan yang sama kepada Sri Krsna, yang menjawab, “Saat Aku merasakan belas kasih yang khusus kepada seseorang, secara bertahap Aku mengambil kekayaannya. Kemudian, anak, istri dan kerabat lainnya dari orang yang jatuh miskin 
meninggalkan dia. Ketika dia kembali berusaha untuk kekayaan demi meraih kembali kasih sayang 

menganugerahkan karunia-Ku yang luar biasa kepadanya: maka ia bisa terbebas dari belenggu kehidupan material dan mencapai kerajaan Tuhan, Vaikuntha.” 

Brahma, Visnu, dan Siva masing-masing dapat memberikan atay menahan berkat-berkat, tetapi sementara Dewa Brahma dan Dewa Siva cepat sekali puas ataupun marah, tidak demikian halnya dengan Sri Visnu. Terkait hal ini, literatur Veda menceritakan kisah berikut: Suatu ketika iblis Vrka bertanya kepada Narada, dewa manakah yang paling cepat terpuaskan, dan Narada menjawah Dewa Siva. Oleh karena itu, Vrkasura pergi ke tempat suci Kedaranatha dan mulai memuja Dewa Siva dengan mempersembahkan potongan daging tubuhnya sendiri sebagai persembahan ke dalam api. Tetapi, Siva tidak muncul. Sehingga, Vrka memutuskan untuk bunuh diri dengan memenggal kepalanya. Tepat pada saat kritis itu, Dewa Siva muncul dari api korban suci lalu menghentikannya, menawarkan kepada iblis itu anugerah apa pun yang dia inginkan. Vrka berkata, “Semoga kematian datang kepada siapa pun yang kusentuh kepalanya dengan tanganku.” Dewa Siva berkewajiban untuk memenuhi permintaan tersebut, dan pada saat itu juga Vrka yang jahat berusaha menguji berkat tersebut dengan meletakkan tangannya di kepala sang dewa. Siva ketakutan lalu melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya, berlari sejauh mungkin hingga ke surga dan batas luar dunia fana. Akhirnya, sang dewa sampai di planet Svetadvipa, tempat tinggal Sri Visnu. Melihat Siva yang putus asa dari kejauhan, Sri Visnu menyamar sebagai seorang sisya muda lalu pergi menemui Vrkasura. Dengan suara yang lembut, Dia berbicara kepada iblis tersebut: “Wahai Vrka, beristirahatlah sejenak dan beritahukanlah kepada Kami apa yang hendak engkau lakukan.” Vrka terpesona mendengar kata-kata Visnu lalu menceritakan segala yang telah terjadi. Visnu berkata, “Sejak Dewa Siva dikutuk oleh Prajapati Daksa, ia telah menjadi bagaikan roh jahat pemakan daging. Jadi, janganlah mempercayai kata-katanya. Lebih baik uji dulu berkas yang ia berikan dengan meletakkan tanganmu di kepalamu sendiri.
diri.” Terbingungkan oleh kata-kata itu, iblis bodoh itu menyentuh kepalanya sendiri, yang langsung hancur dan jatuh ke tanah .Teriakan “Jaya!” “Sembah sujud!” dan “Bagus sekali!” terdengar dari langit, dan para dewa, resi, leluhur, serta para Gandharva semuanya mengucapkan selamat kepada Tuhan dengan menaburkan bunga-bunga. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vasthu ( Vastushastra) adalah Sumber Feng Sui

Niti-Sastra ungkapan dari Canakya dan Hitopadesa Satsvarupa dasa Goswami dikutip oleh Srila Prabhupada

Bhagavatam Itu isinya tentang apa?