Tuhan menyediakan segala kebutuhan makhluk hidup di alam semesta_srimad-bhagavatam
Dengan memandang alam semesta yang sedang tidak aktif pada saat mengirimkan para jiva ke dalam ciptaan, Tuhan Yang Maha Esa menyediakan segala kebutuhan mereka: Bagi para makhluk hidup yang merupakan pekerja yang berpamrih, Dia menyediakan kecerdasan dan indria-indria yang diperlukan untuk mencapai sukses dalam pekerjaan material. Bagi mereka yang mencari pengetahuan rohani, Dia menyediakan kecerdasan yang dengannya mereka dapat menyatu ke dalam cahaya spiritual Tuhan, sehingga mencapai pembebasan. Dan bagi para bhakra, Dia memberikan pemahaman yang menuntun mereka kepada pelayanan bhakti yang murni.
Untuk mengatur tersedianya berbagai fasilitas ini, Tuhan mendorong alam material untuk memulai proses evolusi alam semesta. Dengan demikian, Tuhan adalah nimitta-karanam, atau penyebab-efekrif, dari penciptaan. Dia juga merupakan upidanakaranam, penyebab-material, karena segala sesuatu memancar dariNya dan Dia sendiri senantiasa hadir sebelum, selama, dan setelah terwujudnya alam semesta. Sri Narayana sendiri menyatakan hal ini di dalam Catuh-sloki Bhagavatam:
dham evasam evagre
niinyad yat sad-asat-param pa$cad aharn yad etac ca
yo 'vaSisyeta so 'smy aham
“Akulah, Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, yang sudah ada sebelum terjadinya penciptaan, saat belum ada yang lain selain diri-Ku. Alam material, penyebab ciptaan ini, juga belum ada. Yang engkau lihat sekarang juga adalah Aku, Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Setelah terjadi peleburan, yang tetap ada juga Aku,
Personalitas Tuhan Yang Maha Esa.” (SB 2.9,33) Maya mula-mula dan sang jiva mungkin berhak menerima gelar masing-masing scbagai penyebab upadana dan penyebab nimitta ciptaan dalam makna yang relatif, tetapi Tuhan, bagaimanapun juga, adalah asal mula kedua-duanya. Sampai akhirnya Ia memilih untuk menerima karunia dari Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, sang jiva adalah anu$ayi, yakni terikat tanpa daya dalam pelukan ilusi. Ketika ia berpaling menuju pemujaan kepada Tuhan, ia menjadi anu$ayi dalam makna yang berbeda: jatuh seperti tongkat untuk bersujud di kaki Tuhan. Dengan penyerahan diri tersebut, sang jiwa dengan mudah menyingkirkan ilusi. Meskipun jiwa yang telah terbebaskan mungkin masih tampak hidup di dalam badan material, hubungan yang dimilikinya dengan badan tersebut hanyalah penampakan luar, ia tidak lagi memperhatikan badannya seperti halnya orang yang sedang tidur tidak memperhatikan badannya saat ia sedang asyik dalam kesibukan yang berada jauh di dunia mimpinya.
Kegelapan tersingkirkan dengan cara melepaskan identifikasi palsu dengan badan material. Kadangkala seseorang dapat mencapai keadaan tersebut hanya melalui usaha keras yang memakan waktu banyak kehidupan, tetapi dalam beberapa kasus, Tuhan mungkin memperlihatkan pertimbangan khusus untuk orang yang Dia berkati, terlepas dari seberapa kecil pahala yang telah dikumpulkan oleh jiwa tersebut melalui latihan yang teratur. Dalam kata-kata Sri Bhismadeva, yam iha niriksya hata gatah svarapam: “Mereka yang cukup hanya melihat Krsna di medan perang Kuruksetra mencapai wujud aslinya setelah terbunuh." (SB 1.9.39) Kenyataan bahwa bahkan iblis-iblis seperti Agha, Baka, dan Kesi dibebaskan oleh Sri Krsna tanpa harus melakukan latihan spiritual apa pun merupakan isyarat tentang kedudukan-Nya yang istimewa sebagai Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mengetahui hal ini, kita harus mengesampingkan segala rasa takut dan keraguan serta menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada proses bhakti.
Sebagai kata-kata terakhir dari ulasan beliau atas bab ini, Srila Sridhara Svami menulis, '
sarva-fruti-firo-ratnanirdjita-padambujam
bhoga-yoga-pradam vande mddhavam karmi-namrayoh
“Dengan kecemerlangannya, permata-permata di antara semua fruti mempersembahkan drati kepada kaki-padma Srt Madhava. Hamba menghaturkan penghormatan kepada Dia yang menganugerahkan kenikmatan material, yang dijunjung oleh para pekerja material, dan yang juga menganugerahkan hubungan rohani dengan diriNva, yang dihargai oleh mereka yang bersujud kepada Dia dengan penuh hormat.”
Srila ViSvanatha Cakravarti Thakura juga mengambil kesempatan ini untuk memanjatkan doa rendah hati ini:
he bhakta dvary ayam caricadvaladhi rauti vomanak
prasadarm labhatam yasmad viSistah Sveva nathati
“Wahai para bhakta, makhluk malang ini sedang berdiri di depan pintu rumah Anda, mengibas-ngibaskan ekornya dan menggonggong. Tolong berilah dia sedikit prasadam agar dia bisa menjadi yang istimewa di antara para anjing dan mendapatkan majikan terbaik sebagai pemilik dirinya.” Di sini, sang dcarya membuat permainan kata-kata terhadap namanya sendiri: vif (istah), “istimewa”, $va (iva), “seperti seekor anjing”: ndtha (ati), “memiliki tuan”. Seperr itulah kesempurnaan dari kerendahan hati seorang Vaisnava.
Demikian berakhir penjelasan para abdi tulus Srt Srimad A.C, Bhaktivedanta Swami Prabhupada atas Skanda Sepuluh, Bab Delapan
Puluh Tujuh, Srimad-Bhagavatam, yang berjudul “Doa-Doa Kepribadian Veda."
Komentar
Posting Komentar