Mengejar rasa cinta Radha Krishna

Ketika mengejar rasa cinta yang tertinggi saat melakukan līlā di dunia ini, rasarāja Kṛṣṇa takjub ketika merasakan betapa besarnya cinta Rādhā, sebab cinta itu melampaui segala sesuatu yang pernah Dia alami. Kṛṣṇa selalu menganggap diri-Nya adalah Sang Raja Cinta, sehingga pengalaman ini membuat Kṛṣṇa mengalami krisis identitas diri, yang memaksa Dia untuk mengajukan pertanyaan sulit, “Apakah Aku benar-benar adalah Sang Raja Cinta, padahal jelas-jelas cinta Rādhā melampaui segala sesuatu yang pernah Kualami?” Ketika alasan utama Dia turun ke dunia ini yaitu untuk merasakan cinta yang tertinggi dengan demikian tergagalkan, maka kegagalan itu kemudian mempengaruhi kemampuan-Nya untuk meraih tujuan sekunder Dia turun ke dunia ini, yakni untuk mengajarkan kepada dunia tentang cinta.  

Untuk mengatasi krisis ganda ini, Kṛṣṇa, sesuai dengan watak alamiah-Nya, berupaya untuk mencuri suasana hati Rādhā. Seorang pencuri yang cerdas tau di mana harus bersembunyi. Ke mana kah Śyāma pergi? Pencuri tampan yang berkulit gelap itu menyembunyikan diri-Nya di tengah-tengah zaman kegelapan, Kali-yuga, dengan menyamar sebagai sesosok sādhu. Akan tetapi, apa yang Dia curi lebih terang daripada jutaan matahari. Maka, ketika para penyembah-Nya – kecintaan-kecintaan Rādhā – mencari Dia, tidaklah sulit untuk menemukan Dia.  

Menyadari kemungkinan diri-Nya akan segera tertangkap oleh para penyembah-Nya, Kṛṣṇa menyerahkan begitu saja benda curian itu sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian, dengan menasihati setiap orang yang menerima benda itu agar memberikannya pula kepada orang lain. Akan tetapi, hal ini hanya memperburuk keadaan, sebab dengan melihat bahwa prema sedang dibagi-bagikan, para penyembah-Nya pun curiga. Mereka tau bahwa cinta yang secemerlang seperti cinta Rādhā hanyalah dapat dialami dalam jalinan hubungan dengan Kṛṣṇa sendiri sehingga Kṛṣṇa pastilah sedang berada di tengah-tengah mereka. 

Lebih jauh lagi, walaupun Kṛṣṇa sudah berusaha membagi-bagikan benda itu, tetapi, dilatari oleh sifat dari prema itu sendiri, maka benda itu terus semakin bertambah di dalam diri-Nya, sehingga kulit-Nya pun berubah menjadi berwarna keemasan. Karena tertarik oleh warna kulit-Nya yang keemasan dan melihat betapa besar prema di dalam diri-Nya, mereka menjuluki Dia sebagai Gaura Kṛṣṇa lalu mulai menyebarluaskan tentang kebenaran tersebut ke seluruh dunia. Pada akhirnya, Kṛṣṇa yang berwarna keemasan itu, di bawah tahanan dua sahabat Rādhā, menuliskan pengakuan-Nya dalam delapan ayat (Siksastaka), untuk memohon dilimpahkannya karunia. Hanya setelah menerima karunia itu, barulah Dia dapat menyadari akibat dari perbuatan-Nya dan merasakan sepenuhnya cinta kasih Rādhā.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vasthu ( Vastushastra) adalah Sumber Feng Sui

Bhagavatam Itu isinya tentang apa?

Niti-Sastra ungkapan dari Canakya dan Hitopadesa Satsvarupa dasa Goswami dikutip oleh Srila Prabhupada